Damaskus,LiputanIslam.com-Presiden Turki pada hari Rabu (9/10) memulai operasi militer negaranya ke utara Suriah. Setelah Recep Tayib Erdogan mengumumkannya melalui Twitter, tentara Turki memulai serangan artileri dan udaranya.

Invasi Turki ke Suriah adalah hasil lampu hijau yang diberikan AS. Serangan dilakukan usai Donald Trump menarik keluar pasukan AS dari utara Suriah.

Serangan ini juga berpangkal dari kerancuan hubungan internasional, yang disebabkan kebijakan dan intervensi AS dalam urusan negara-negara lain di dunia.

Dengan kebijakan unilateralisme yang diambil AS terhadap bangsa-bangsa di dunia, Washington praktis mengabaikan PBB dan hukum internasional. Hal ini menyebabkan organisasi dan lembaga internasional tak lagi memiliki wibawa dan pengaruh di dunia. Hal ini pula yang mendorong Erdogan untuk kesekian kali mengabaikan hukum inernasional, dan di siang bolong mengumumkan serangan ke negara tetangga. Ini dilakukan Erdogan tanpa ada penghalang di hadapannya, sama seperti yang dilakukan pemerintah AS dan Israel.

Turki berdalih, serangan ke utara Suriah bertujuan untuk “mengusir ISIS.” Padahal, sebagaimana yang disaksikan warga dunia, penduduk di kota-kota seperti Ra’s al-Ain dan Tal Abyadh­­, yang akan diserang jet-jet Turki, adalah orang-orang yang membebaskan kawasan tersebut dari ISIS.

Banyak pakar berkeyakinan, serangan Erdogan atas penduduk kawasan itu adalah “membalaskan dendam ISIS.” Namun, bencana yang lebih besar adalah bila tentara Turki bisa menyelamatkan 10 ribu anggota ISIS yang ditahan kelompok Kurdi. Jika ini terjadi, Ankara akan menggunakan mereka lagi untuk memerangi Suriah dan Irak.

Jika benar bahwa “pemerintah otonom Kurdi” mengundang Rusia untuk menjamin gencatan senjata dalam dialog dengan Damaskus, berarti etnis Kurdi telah melakukan tindakan yang masuk akal, kendati sudah sangat terlambat. Kelompok Kurdi, yang telah ditipu AS dan menjadi korban keserakahan ‘kekhalifahan baru Ottoman,’ memang tak punya jalan selain kembali ke pelukan tanah air dan bergabung dengan Damaskus. Dengan cara ini, mereka bisa mencegah ketamakan pihak-pihak yang mengincar kekayaraan sumber alam Suriah.

Tampaknya, Erdogan telah jatuh dalam perangkap yang dipasang Washington, menyusul kedekatan Ankara kepada Moskow dan pembelian S-400 dari Rusia.

Erdogan secara sadar dan dengan ilusi “menghidupkan kekhalifahan Ottoman,” jatuh dalam perangkap ini. Sebelum ini, Saddam Hussein juga pernah jatuh dalam perangkap semacam ini dengan ilusi-ilusi lain. Erdogan berkhayal, dengan menyerang Suriah, dia akan menjadikan dirinya sebagai pahlawan nasional, serta mengakhiri perpecahan di internal Partai Keadilan dan Pembangunan Turki. Dia tidak sadar bahwa ilusi ini bukan hanya tak akan membawa persatuan di partainya, tapi justru akan menamatkan riwayat partai dan karir politiknya, sebab “perang bukanlah piknik atau tamasya.” (af/alalam)

Baca Juga:

Mesir Sebut Operasi Militer Turki di Suriah Sebagai Agresi Terhadap Negara Saudara

DK PBB Sidangkan Operasi Militer Turki di Suriah

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*