Ammar Fauzi Heryadi, Ph.D.*

Jauh sebelum populer dalam tradisi Filsafat Islam, filsafat di Yunani sudah sejak awal dibanggakan karena fokus pemikiran dan dialog-perdebatan yang diinisiasi, salah satunya, untuk mengenal asal keberadaan, dasar pengetahuan, dan motif tindakan. Dalam diktum Plato, filsafat adalah ilmu termulia semulia masalahnya, ilmu tertinggi setinggi fokus utamanya.

Tidak hanya berlaku untuk mengukur posisi ilmu, diktum ini juga agaknya relevan dalam menakar nilai dan martabat bangsa. Diajarkan bahwa kepribadian seseorang adalah senilai pikirannya atau, dengan kata lain, nilai setiap orang diukur dengan apa yang dia pikirkan. Sebangun diktum tadi, bangsa ini besar bukan dalam narasi, bukan dari apa yang ditampilkan media. Kebesaran bangsa tidak akan lebih dari apa yang mereka pikirkan.

Konsekuensinya, orang yang absen dari apa yang dipikirkan oleh dan untuk bangsa, sewibawa apa pun status dan posisi formal di dalamnya, bukan bagian dari bangsa. Alih-alih menata kebesaran bangsa, dia sesungguhnya separatis yang beroperasi di jantung negeri, menahan aliran dan denyut masa depan dari setiap anak bangsa. Pembiaran individu-individu korup seperti ini juga merupakan sinyal absennya kesadaran bangsa akan masalah dan apa yang mereka pikirkan.

Nilai-Nilai Logos

Salah satu kebijaksaan paling tua ialah kata-kata bijak Sokrates, “Pikiran kuat akan membicarakan gagasan, pikiran lumayan akan membicarakan peristiwa, dan pikiran lemah akan membicarakan orang.”

Kapasitas pikiran bergantung isinya, seukuran dengan apa yang dipikirkan, sebobot masalah yang dibicarakan, yakni seberapa pengaruhnya menentukan nasib hidup bangsa. Isi pikiran dan bobot masalah terungkap dalam fokus-fokus narasi dan konsentrasi perdebatan. Suatu masalah itu tampak penting bagi seseorang dari seberapa gigih dan intenstif dia membicarakannya.

Di tahun politik, dinamika politik begitu cepat; isu dan kasus bermunculan begitu ketat. Di balik setiap dinamika, ada peristiwa, ada subjek dan objek, serta ada latar belakang. Pikiran lemah akan terfokus pada siapa orang dan pihak mana saja yang terlibat. Perbincangannya di berbagai forum dan ruang publik berhenti dan perputar-putar hanya di identitas orang dan kubu.

Akan halnya pikiran ‘lumayan’ dan ‘rata-rata’ akan menyoroti fakta kejadian. Medan fokusnya seputar peristiwa tertentu, sejauh yang terlihat dan didengar dari teks dan tayangan. Pikiran lumayan berhenti di permukaan peristiwa karena menyimaknya sebagai penggalan kasus, tanpa mengamati hubungan antarperistiwa, atau terbatas/membatasi akses sumber peristiwa. Meski sedikit lebih beruntung dibandingkan pikiran lemah, pikiran ‘rata-rata’ itu masih rentan, setidaknya, menjadi korban opini dan perencanaan hoax.

Nilai otentik manusia diuji: mampukah dia tidak mandek di dua pikiran ini dan  melampauinya hingga menjangkau apa saja yang melatarbelakangi peristiwa, subjek dan objek yang terlibat, dalam rangka memikirkan apa saja konsekuensi sekaligus efek dan dampaknya untuk kemudian mempredikasi berbagai kemungkinan, peluang dan tantangan. Ia berusaha melihat fakta di balik opini dan peristiwa, pelaku dan korban.

Di sinilah momentum pembuktian otentisitas setiap orang sebagai ‘binatang yang berpikir logis’, yakni memiliki logos dengan kedua makna tradisionalnya: kebenaran nalar dan keberadaban kata-kata. Berlogos yaitu tulus memikirkan masalah, jelas membahas masalah dan sopan menarasikan masalah. Nilai-nilai seperti inilah yang menjadi momentum agar pikiran kuat itu terbentuk, berisi, berfokus, berperan, dan berdampak.

Logos menyeberangkan fokus pikiran dari peristiwa ke fakta, dari opini ke gagasan. Seperti dalam puisi Alfred Lord Tennyson, tidak sekedar hidup lantas mati, tapi harus tahu, ‘kenapa?’. Penyebarangan hanya dapat dituntaskan dengan bertanya ‘kenapa’. Tidak hanya bicara siapa orangnya, tidak pula hanya bicara bagaimana peristiwanya, logos dan akal sehat manusia utamanya berbicara kenapa dan untuk apa. Tanpa ‘kenapa?’, dia seperti menggantung di ujung patahan jembatan.

Artinya, tanpa nilai-nilai logos, orang dan peristiwa bukan ukuran dan tidak bernilai karena, memang, bukan masalah penting. Nilai-nilai ketulusan, kejelasan, dan keberadaban dalam berpikir dan berlogos akan mudah meyakinkan kekeliruan hasil pemikiran sebagai kodrat manusiawi, sekaligus membuat orang semakin tidak takut salah dalam memikirkan, membahas, dan menarasikan masalah.

 

Pemilu dan Memilih Nalar

Pada hakikatnya, semua pikiran itu kuat. Pikiran ‘lemah’ juga sebenarnya ‘kuat’, karena pikiran itu kuat terfokus dan militan dalam menyoroti siapa orangnya dan mana kubunya. Pikiran lemah juga berarti kekuatiran yang kuat sehingga lebih mengakomodasi kemauan siapa yang menang dan siapa yang kalah nanti.

Sialnya, pikiran kuat tidak selalunya menang. Dalam banyak adegan dan forum, narasi pikiran kuat tampak lebih tenang hingga diam mengalah bahkan, tak jarang dan ironisnya, jadi pecundang di hadapan publik yang diyakinkan oleh kebisingan, kengototan, dan kepercayadirian dua narasi: kalau bukan ‘yang rata-rata’, atau ‘yang lemah’ itu.

Rencana bangsa memilih dan dipilih, terutama di tahun politik, memenuhi semua kriteria pentingnya suatu masalah. Akan menjadi sepenuhnya gagal bila rencana itu disadari belum nyata sebagai peristiwa, atau menunggu pada waktu ‘kejadian’ pemilu, atau dianggap hanya di hari-hari pemungutan dan perhitungan suara. Sama seperti rentang waktu persiapan para penyelenggara dan kontestan pemilu, hari-hari ini adalah momentum panjang bagi publik, terutama kontestan, partai, tim pemenang, elite politik dan media, menentukan level pikiran dan nilai narasi masing-masing.

Hari ini adalah satu dari sekian hari pemilu, satu bagian dari masalah penting dan penentu masa depan bangsa. Hari ini bahkan sudah bisa jadi acuan untuk mengukur nilai pemilu nanti. Artinya, nilai pemilu ditentukan dan dimenangkan oleh satu dari tiga level pikiran dan narasi yang pada hari-hari ini paling kuat fokusnya. Kemenangan, kemeriahan, dan kegembiraan pemilu nanti bisa berarti justru kekalahan logos, pikiran kuat dan narasi gagasan hari ini.

Semua menghendaki masa depan hasil dari pemilu nanti sesuai janji dan narasi, tapi tidak sembarangan narasi selain yang dibangun di atas kekuatan gagasan dan komitmen pada nilai-nilai logos. Musuh dan ancaman pemilu di depan mata bangsa ini hanyalah kemunafikan, kerancuan, dan ketakberadaban yang berasal dari dua pikiran: lemah dan rata-rata, sebelum diperagakan dalam ketangkasan narasi dan akting.

Tidak perlu kuatir atau berusaha menghindar dari ketegangan dan keras pendirian selama berada dalam narasi logos. Sebaliknya, akan terhina kerdil bila berdebat dan beradu aksi sekedar menampilkan kekuatan pikiran lemah atau pikiran sedang-sedang saja. Bila ini yang dipertahankan, dari sekarang semua sudah kalah, tidak ada yang menang selain kepalsuan, dan hari pemilu hanyalah transparansi kekalahan dan kemunafikan.

Memang, narasi logos tidak menjanjikan kemenangan, karena logos dan akal sehat itu sendiri kemenangan sebelum jadi janji. Narasi logos juga tidak menakut-nakuti kekalahan, karena tidak ada yang kalah kalau hanya sekedar kalah gagasan atau gagal menawarkan yang terbaik. Dalam narasi logos, karena itu, tidak ada perkubuan atau koalisi serius, selain permainan sementara.

Pola pikir dan narasi logos wajib diunggulkan hanya untuk memastikan agar tidak mentransaksikan diri sendiri dan masalah bangsa di bawah harga pikiran kuat atau, minimalnya, bertahan hidup di bumi ini dapat dijustifikasi bukan sedang bermufakat untuk tetap berada di taman satwa raksasa. []

*Dosen STFI Sadra, Peneliti ICMES

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*