palestina abdel bari atwanOleh: Abdel Bari Atwan
LiputanIslam.com –  Genap 10 tahun sudah berlalu peristiwa kemenangan pasukan muqawamah (perlawanan) Lebanon di bawah komando Hizbullah dalam perang 33 hari melawan Israel. Dalam perang pada tahun 2006 itu dari Lebanon Israel dihujani ribuan rudal yang kemudian menjungkir balikkan perimbangan kekuatan, meruntuhkan mitos superioritas Israel dan kepamungkasan serangan udara.

Israel tak berkutik dan segera mengerut sebagai pecundang yang tercekam ketakutan, dan ini terjadi baru pertama kalinya.  Maka mulailah “kamar-kamar gelap” di Barat menggelar pertemuan-pertemuan dan mengadakan kajian-kajian strategi untuk memblokir fenomena ini, menggembosi kemenangan ini, menghabisi para prajurit Arab, dan memorak porandakan negara-negara kubu lawan Israel dengan cara menenggelamkannya ke dalam kekacauan berdarah, dan memberantas segala bentuk ideologi muqawamah.

Mari kita kilas balik sejenak, tepatnya dengan meninjau kembali laporan Komisi Winograd yang dibentuk untuk menelisik  sebab-sebab kekalahan pasukan Israel, baik secara militer maupun mental. Kita perlu menyimak lagi pengakuan-pengakuan mengejutkan bagi tradisi para jenderal dan pejabat teras Israel, dan catatan mereka tentang perang ini, lalu kita buat kesimpulan dalam beberapa poin untuk kemudian kita pasrah kepada para ahlinya di tengah gempita badai aksi penyesatan dan pembodohan.

Pertama, mantan perdana menteri Israel Shimon Perez mengatakan bahwa seandainya saat itu otoritas ada dalam genggamannya niscaya Israel tidak akan terjebak pada perang ini, karena dia menilai kesiapan pihak lawan terus berkembang, sementara pasukan Israel belum siap.

Kedua, kepala staf angkatan bersenjata Israel saat itu Dan Halutz menyebutkan dua faktor kekalahan Israel dalam perang tersebut;

a.  Ketidak berdayaan Israel menghentikan hujan rudal Katyusha  yang menggempur kawasan permukiman al-Jalil (Galilee) dan kawasan utara Israel secara keseluruhan. Kubu muqawamah telah menghujankan lebih dari 5000 rudal.

b. Keberlanjutan perang hingga 33 hari akibat solidnya resistensi kubu Hizbullah. Jet-jet tempur Israel ternyata tak dapat diandalkan untuk menyudahi serangan dalam tempo secepat mungkin, tak seperti yang biasa terjadi dalam perang Israel dengan Arab sebelumnya.

Ketiga, menteri pertahanan Israel saat itu Ehud Olmert saat membela diri di depan badai kecaman, termasuk karena dia tidak mengirim pasukan darat ke Lebanon selatan, mengatakan, “Pasukan kita tidak akan mengerti jalan keluar apabila mereka masuk ke Lebanon,” dan dengan demikian nasib Israel akan lebih runyam.

Keempat, banyak jenderal dan pejabat Israel, termasuk Halutz, menyatakan bahwa ideologi muqawamah Lebanon tak dapat dibasmi. Dia bahkan menyebut pasukan Israel sudah berubah menjadi “karung tinju.”

Pengacauan akidah Islam melalui penyebaran sektarianisme dan disintegrasi negara-negara kawasan berdasarkan mazhab dengan pengerahan media-media yang didukung oleh para agen serta mobilisasi para da’i yang berspesialisasi di bidang sektarianisme adalah reaksi cepat Israel untuk mencegah terulangnya kembali kekalahan dan meruntuhkan kemenangan Arab dan Islam.

Dalam rangka ini, beberapa langkah awal yang ditempuh ialah; memotori keputusan Liga Arab mencatat Hizbullah dalam daftar organisasi teroris; menerapkan blokade kejam terhadap kelompok seperjuangan Hizbullah di Jalur Gaza, terutama faksi Hamas dan saudara kembarnya, faksi Jihad Islam; dan melancarkan dua peristiwa agresi Israel terhadap Jalur Gaza dengan harapan dapat mencerabut ideologi muqawamah dan memusnahkan karakteristik kerakyataan dan statusnya sebagai sebuah ideologi.

Tak dapat dipungkiri, cakrawala kemudian terlihat suram, tapi ini tidak akan berlangsung lama. Kelesuan yang melanda dunia Arab sekarang tidaklah lebih buruk daripada kondisi-kondis serupa yang terjadi  sebelumnya dalam sejarah Arab dan Islam di mana yang terakhir di antaranya ialah kekalahan perang mereka pada Juni 1967.

Kaum Zionis Israel bisa jadi berjingkrak menari saat menyaksikan konflik berdarah yang terjadi antarsesama umat Islam, tapi tarian itu tak akan berlangsung lama, apalagi tarian itu lebih merupakan lagak Israel untuk menyembunyikan kegemetarannya menyaksikan fenomena muqawamah.

Dalam konferensi Herzliya untuk doktrin keamanan nasional Israel yang digelar bulan lalu dan melibatkan para jenderal dan pejabat papan atas yang masih aktif maupun sudah non-aktif , Kepala Direktorat Intelijen Militer Israel Mayjen Herzi Halevi melakukan intervensi dengan menyatakan,

“Perang yang akan datang tidak akan mudah, sebab Hizbullah sudah menjelma menjadi gudang rudal dengan berbagai ukuran dan jarak tempuh dalam jumlah raksasa (saat itu ada yang memperkirakan sebanyak 60,000 rudal), serta mendapatkan pengalaman tempur baru melalui keterlibatannya dalam perang di Suriah, sedangkan kita hidup di tengah kawasan miskin Timteng yang sudah menjadi lahan subur baru bagi radikalisme keagamaan dan di tengah meningkatnya kemungkinan penyusupan kawanan bersenjata ke dalam wilayah Israel.

Dua tahu lalu saya berkunjung ke Lebanon Selatan dan mendatangi distrik Mleeta, tempat pasukan muqawamah Lebanon mendirikan musium perang 2006. Saya melihat terowongan-terowongan bawah tanah yang telah mencetak kemenangan, sebagaimana saya menyaksikan tank-tank produk kebanggaan Israel Merkava yang sudah kehilangan pamornya dihantam  serangan pasukan muqawamah.

Menyaksikan pemandangan itu, saya mengakui bahwa saya merasa bangga dan semakin berkeyakinan bahwa umat dan ideologi ini tidak akan pernah hancur untuk selamanya.

Dalam peringatan hari bersejarah ini kita tidak akan membicarakan orang-orang yang ingin menormalisasi hubungan dengan Israel maupun mereka yang bersekongkol untuk merongrong umat ini dan rencana-rencana mereka untuk membuyarkan ideologi muqawamah, sebab kita tidak ingin mengotori kejernihan peringatan ke-10 kemenangan besar ini.

Umat dan ideologi ini pasti akan bangkit dari tidurnya dewasa ini, sebagaimana di masa lalu juga pernah bangkit dari keterlelapannya yang lebih celaka dan parah. Masalahnya sekarang hanyalah tinggal menunggu waktu, kesabaran, dan keimanan yang semuanya menyala bagai bara dalam sekam.  Waktu ada di tangan kita. (mm)

*Abdel Bari Atwan, jurnalis Arab kelahiran Palestina mantan pemimpin redaksi surat kabar al-Quds al-Arabi yang kini memimpin redaksi laman berita Rai al-Youm. Artikel ini diterjemahkan dari editorial Rai al-Youm edisi 14 Agustus 2016.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL