Tom SaptaatmajaTom Saptaatmaja*

Sri Paus Fransiskus hari Ahad (8/6/2014) mengundang Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas dan Presiden Israel, Shimon Peres untuk hadir di Vatikan dan membaca doa bersama. Doa yang dibaca ketiga tokoh ini adalah sesuai Kitab Suci masing-masing. Pertemuan ini menyimbolkan doa umat manusia, Muslim, Kristen, dan Yahudi, demi perdamaian di Palestina.

Akar Masalah

Jika menengok sejarah, inti atau akar konflik bangsa Palestina-Israel adalah klaim rebutan tanah air.Selama ribuan tahun bangsa Palestina hidup tenang di kampung halaman mereka. Lalu pada abad 19 muncul gerakan Zionisme. Zionisme adalah rekayasa Yahudi Eropa dalam kongresnya di Basel Swiss 1897 dipimpin Theodore Herzl, untuk membentuk sebuah tanah air bagi bangsa Yahudi yang tersebar di seluruh dunia.

Keinginan kaum Zionis untuk membentuk tanah air mungkin tidak akan berlarut-larut menjadi sumber konflik hingga hari ini, jika saja Menlu Inggris James Arthur Balfour tidak memberikan jaminan,yang dikenal dengan Deklarasi Balfour pada 1917. Isi Deklarasi Balfour adalah jaminan pemerintah Inggris, kepada seorang Yahudi Amerika bernama Baron Rothchild, bahwa Inggris akan mendukung berdirinya negara Yahudi di bumi Palestina. Kala itu, Inggris menguasai sebagian wilayah Timur Tengah termasuk Palestina.

Sejak itulah, hingga hingga berdirinya negara Israel pada 15 Mei 1948, terjadi migrasi besar-besaran kaum Yahudi seluruh dunia ke Palestina, sementara ratusan ribu hingga jutaan rakyat Palestina terusir dari tanah air mereka.

Yahudi Anti Pemerintah Israel

Konsep berdirinya negara khusus Yahudi sangat bertentangan dengan rasa kemanusiaan dan HAM. Bahkan sebagian orang Yahudi pun tidak setuju dengan konsep ini. Contohnya adalah Neturei Karta. Kelompok Yahudi Orthodoks anti zionisme yang bermarkas di New York ini seringkali memasang iklan di koran New York Times yang isinya agar orang bisa melihat bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah Zionis Israel adalah jahat. Karena selain menginjak-injak martabat bangsa Palestina, pemerintah Israel juga mengorbankan nilai-nilai luhur Yudaisme yang sudah diwariskan oleh Nabi Musa.

Apalagi menurut Torah atau Taurat, orang Yahudi pemeluk Yudaisme juga tidak diijinkan untuk menumpahkan darah, merendahkan atau menjajah bangsa lain seperti dilakukan oleh pemerintah Israel terhadap bangsa Palestina. Neturei Karta menilai, atas dasar inilah, para politisi Zionis dan para pendukungnya tidak boleh mengatasnamakan bangsa Yahudi. Dans seharusnya, kaum Yahudi tunduk pada ketentuan Taurat yang merupakan ketentuan Yahwe (Allah) dan berani menolak Zionisme yang merupakan rekayasa manusia belaka.

Bukan cuma kelompok relijius, para pemikir besar Yahudipun banyak yang jengah dengan langkah serta kebijakan yang diambil pemerintah Israel. Albert Einstein misalnya pernah menulis bahwa dia lebih setuju dengan prinsip saling menghormati dengan bangsa-bangsa Arab daripada terus memperluas negara Israel. Bagi ilmuwan terbesar abad 20 versi majalah Time (27/12/99), hakekat dari Yudaisme sebenarnya sangat bertentangan dengan prinsip berdirinya negara Israel. Karena bagi fisikawan yang menolak dicalonkan jadi presiden Israel pada 1952 itu, Yudaisme selalu tanpa batas, sedang negara Israel selalu terbatas.

Profesor Erich Fromm, penulis dan pemikir Yahudi ternama juga menyatakan kaidah hukum internasional telah dilanggar oleh pemerintah Israel, sebab mereka telah merampas tanah dan hak milik orang-orang Palestina. Bagi Fromm, orang-orang Palestina lebih memiliki legitimasi atas tanah mereka daripada orang-orang Israel yang baru datang kemudian.

Aktivis perdamaian dari berbagai dunia aktif menggalang solidaritas dunia untuk Perdamaian. Di antara para aktivis ini pun ada yang beragama Yahudi. Gila Svirsky, aktivis HAM dari “Women’s Coalition For a Just Peace”, pada Februari 2002 mengecam keras aksi tentara Israel meratakan 600 rumah di kamp pengungsi Palestina di Rafah. Menurut Svirsky, militer Israel telah melakukan dusta yang mencolok terhadap publik dan media massa Israel dan melakukan dosa pada Palestina.

Memang selama hak-hak bangsa Palestina, khususnya hak memiliki negara berdaulat, terus diingkari pemerintah Israel, perdamaian sejati mustahil terwujud di Palestina.

Solusi dari Vatikan

Konflik Israel-Palestina terus menumpahkan darah. Hampir setiap hari ada anak-anak Palestina yang ditembak atau ditangkap tentara Israel. Upaya negosiasi tak kunjung ada hasilnya.

Kunjungan Paus Fransiskus ke Palestina, ke Jerusalem dan Bethlehem pada bulan Mei yang lalu, seolah menawarkan cara pandang baru. Saat itu, Paus menyeru umat Kristen, Yahudi, dan Muslim bekerja sama menciptakan perdamaian. Beliau juga mengundang pemimpin Palestina dan Israel untuk datang ke Vatikan.

“Ini adalah saat untuk memanggil Tuhan atas karunia perdamaian. Ini adalah jeda dalam politik,” kata Pastor Pierbattista Pizzaballa, seorang pejabat Vatikan dalam penjelasannya kepada pers mengenai acara ini.

“Ini juga merupakan undangan kepada para politisi untuk berhenti sejenak dan melihat ke langit. Semua orang ingin sesuatu terjadi, sesuatu untuk mengubah situasi. Setiap orang lelah atas konflik yang tidak habis-habisnya ini,” lanjut Pizzaballa. (LiputanIslam.com, 8/6)

Ya, inilah solusi yang ditawarkan Paus Fransiskus: kembali pada seruan damai agama. Dalam pertemuan di Vatikan, Paus menyatakan bahwa upaya damai justru lebih memerlukan keberanian, dibanding perang. Umat ketiga agama harus berani berkata ya untuk dialog dan tidak untuk kekerasan. []

*penulis adalah kolumnis dan pegiat lintas agama, tinggal di Surabaya

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL