purkonOleh: Purkon Hidayat *
Menyalahkan korban terjadi di mana-mana. “Blaming the Victim, Globally”, ujar George Kent, mewanti-wanti. Statemen profesor politik Universitas Hawaii ini tidak bisa dikesampingkan menyikapi merebaknya sikap menyalahkan korban setiap kali insiden terjadi. Faktanya, bukan hanya pelaku yang menyalahkan korban supaya terhindar dari hukuman. Tapi, media dan masyarakat, bahkan negara beramai-ramai “memvonis korban” atas musibah yang menimpa dirinya. Berbagai riset menunjukkan pengaruh signifikan pola pikir (mindset) terhadap terjadinya blaming the victim.
William Ryan dalam bukunya “Blaming The Victim“ (1971) menilai stereotipe rasisme berkontribusi besar atas terjadinya kekerasan dan ketidakadilan sosial di AS dengan menyalahkan korban dari pihak kulit hitam. Ryan merespon laporan sosiolog AS, Daniel Moynihan berjudul “The Negro Family: The Case for National Action” (1965), yang merasionalisasi status miskin orang kulit hitam sebagai kesalahan mereka. (Kirkpatrick:1987, 219, Schoellkopf:2012:3).
Ryan mengkritik teori Moynihan yang dinilainya mengalihkan tanggung jawab kemiskinan dari faktor sosial struktural ke arah perilaku dan pola budaya masyarakat miskin. Menurut Ryan, rasisme terhadap kulit hitam di AS sebagai penyebab timbulnya sebagian masalah yang membelit mereka. Sementara stereotipe ini sudah menyebar di tengah masyarakat, dan terlanjut diadopsi sebagai kebenaran oleh Media massa.
Setelah berlalu 43 tahun sejak buku “Blaming the Victim” diterbitkan, rasisme terhadap kulit hitam di AS masih terus terjadi, bahkan ketika presidennya pun seorang kulit hitam. Penembakan yang dilakukan seorang polisi kulit putih terhadap remaja kulit hitam, Michael Brown, di Ferguson tahun lalu sebagai salah satu faktanya. Ironisnya, dewan juri di pengadilan justru membebaskan penembaknya, Darren Wilson dari tuduhan pembunuhan yang memicu unjuk rasa luas di Negeri Paman Sam itu. Dalih hakim, polisi kulit putih itu menembak karena membela diri. Padahal korban tidak bersenjata, dan tidak pernah memiliki rekam jejak kriminal.
Contoh lain blaming the victim terjadi di ranah ilmu sosial. Di bidang ekonomi, muncul teori trickle down effect yang mengibaratkan kesejahteraan sosial seperti tetesan air dari atas ke bawah. Menurut teori ini, pembangunan ekonomi, termasuk peningkatan jumlah orang kaya, akan berdampak pada multiplier effect terhadap pelaku ekonomi di bawahnya, sehingga akan berimbas terhadap kemakmuran. Dalam batasan tertentu, teori ini menempatkan orang miskin sebagai blaming the victim atas kemiskinannya, sembari membela orang kaya sebagai pahlawan ekonomi dalam skala makro.
Dalam skala nasional, blaming the victim terjadi menimpa Prita Mulyasari yang dipidanakan oleh sebuah rumah sakit swasta terkemuka gara-gara memprotes pelayanan buruk rumah sakit tersebut melalui surel pribadi yang dipublikasikan. Hingga kini, pola pikir blaming the victim terus-menerus dipertontonkan secara terbuka, bahkan menembus ranah ibadah haji, ketika terjadi insiden Mina lebih dari sepekan lalu yang menelan begitu banyak korban jiwa.
Insiden Mina: Blaming the Victim !
Jumlah Korban wafat insiden Mina kian hari terus bertambah. Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah Kemenag Arsyad Hidayat menyatakan jumlah warga negara Indonesia yang meninggal dunia di Mina bertambah menjadi 91 orang (Antara, 2/10/2015).
Di tengah suasana duka ini, kerajaan Arab Saudi hingga tulisan ini dibuat belum menyampaikan permintaan maaf secara resmi atas terjadinya tragedi Mina kepada Indonesia. Media massa nasional di Tanah Air pun tidak memberitakan permohonan serupa disampaikan pihak kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta dalam acara peringatan hari Nasional Arab Saudi ke-85 baru-baru ini. Titik pangkalnya satu: Saudi merasa sudah menunaikan tugasnya dengan baik sebagai penyenggara haji. Sebaliknya, sejumlah pejabat tinggi Saudi justru menyalahkan jemaah haji dari negara tertentu sebagai penyebab terjadi insiden berdarah di jalan 204 Mina.
Studi Critical Discourse Analysis (CDA) terhadap pola pemberitaan media Arab Saudi seperti Al-Arabiya, Asharq al-Awsat, dan lainnya, yang diamini media di Tanah Air, menujukkan pola serupa, “Arab Saudi benar”, dan “[sebagian] jemaah haji salah”.
Pertama, pemberitaan tentang pemerintah Saudi ditampilkan sebagai pihak yang telah bekerja keras melayani jemaah haji sebaik-baiknya. Perhatikan, betapa massifnya liputan tentang besarnya dana yang dikucurkan untuk pembangunan kawasan haji, sikap pemurah Raja memberikan kompensasi dana terhadap pihak keluarga jemaah haji yang meninggal dan cedera dalam kasus ambruknya crane di areal Masjidil Haram sebelum tragedi Mina, ataupun pernyataan terima kasih korban cedera di rumah sakit Saudi terhadap kunjungan Raja maupun otoritas kerajaan yang menjenguknya.
Kedua, pemberitaan segmentatif yang menempatkan jemaah haji sebagai pelanggar aturan, tidak disiplin, melanggar jalur, tidak taat prosedur dan lainnya. Penggunaan pola Nominasi-Kategorisasi, sebagaimana dijelaskan Theo Van Leuwen dalam “The Representation of Social Actors (1986:32-69), tampaknya paling sering dipergunakan dengan penyematan nama negara tertentu, seperti “Iran” setelah kata “jemaah haji” sebagai faktor pemicu terjadinya insiden berdarah di Mina.
Pola marjinalisasi tersebut diperkuat dengan penayangan video, laporan saksi mata maupun statemen otoritas terkait yang sejalan, bukan yang lain. Selain itu, pola Objektivikasi-Abstraksi juga acapkali dipakai untuk memperkuat pesan yang ingin dibenamkan kepada audiens dengan membubuhkan kata “berkali-kali” atau “seringkali”, seperti kalimat “jamaah haji Iran seringkali berbuat kekacauan dalam ibadah haji”, meski tidak didukung data yang valid.
Dua pola tersebut dipergunakan untuk menutupi carut-marut manajemen haji. Pasalnya, sebelum tragedi Mina tahun ini, terjadi enam kali insiden berdarah serupa di masa lalu yaitu: tahun 1990, 1994, 1998, 2001, 2003, dan 2006 dengan korban tewas sebanyak 1.426, 270, 118, 35, 250 dan 364 orang. Tragedi Mina terjadi kurang dari dua pekan setelah bencana crane ambruk di Masjidil Haram yang menewaskan 107 orang.
Tampaknya, pengulangan peristiwa berdarah di tempat yang sama dengan korban jiwa yang besar hingga kini belum membuat Saudi mengevaluasi diri. Tapi, sebaliknya terus-menerus menjadikan jemaah haji sebagai korban yang dipersalahkan. Bukankah manusia yang belajar tidak jatuh di tempat yang sama dua kali?
*Peneliti Indonesia Center For Middle East Studies (ICMES)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL