Pepe Escobar

Pepe Escobar

Oleh: Pepe Escobar*

Berbicara tentang tragedi Suriah, ada fakta yang sangat menarik. Di tengah lebarnya jurang pemisah antara sikap Rusia dan Arab Saudi terkait konflik ini, mengapa, Arab Saudi masih mengadakan pembicaraan dengan Rusia?

Alasan utama adalah karena Arab Saudi merasa dikhianati, dan paranoid dengan Amerika Serikat (AS), yang dibawah kepemimpinan Obama, nampaknya telah menyerah melakukan isolasi terhadap Iran. Tidak heran jika mereka mungkin tergoda untuk ‘melompat pagar’, bersekutu dengan Rusia, meskipun untuk hal itu ada banyak harga yang harus dibayar.

Jadi mari kita bicara tentang minyak. Dalam hal energi, kesepakatan minyak dengan House of Saud akan memiliki arti besar bagi Rusia. Sebuah kesepakatan bisa menghasilkan pendapatan minyak tambahan untuk Moskow sekitar 180 milyar dollar per tahun. Anggota GCC lainnya belum benar-benar dihitung, mengingat Kuwait adalah protektorat AS, Bahrain merupakan daerah resor Saudi, Dubai adalah gudang operasi heroin dan pencucian uang. Lalu Uni Emirat Arab adalah negara kaya mutiara.

Riyadh, dengan paranoia sepenuhnya mencatat pemerintahan Obama telah melangkahi Arab Saudi terkait dengan dugaan gas bonanza milik Iran, yang konon akan menggantikan Gazprom memasok Eropa. Hal itu sebenarnya tidak akan terjadi, karena, bagaimanapun juga untuk implementasi hal ini Iran harus menyediakan 180 milyar dollar untuk melakukan investasi jangka panjang.

Rusia telah memahami bagaimana AS telah memblokir South Stream. AS juga telah memblokir Turk Stream. Selain itu, AS juga menekan Finlandia, Swedia, Ukraina, dan Eropa Timur, untuk siap dipersenjatai demi melawan Rusia.

Dari sudut pandang House of Saud, ada tiga faktor yang utama:

1. Merasa bahwa mereka berada di ‘titik merah’ karena kehilangan hubungan ekslusif dengan AS, sehingga tidak mempu mengontrol kebijakan AS di Timur Tengah.

2. Merasa begitu terkesan dengan operasi anti-terorisme yang dilakukan dengan cepat oleh Rusia di Suriah.

3. Mereka khawatir akan aliansi Rusia dan Iran, apalagi jika tidak punya daya tawar untuk membendungnya.

Itulah sebabnya, penasihat Raja Salman menekankan bahwa House of Saud mewaspadai Iran di segala lini. Mulai dari Suriah hingga ke Yaman, apalagi jika terkait dengan hubungan dengan Rusia yang semakin mesra. Bahkan, Raja Salman mungkin mengunjungi Putin sebelum akhir tahun.

Di sisi lain, Iran memiliki prioritas, yaitu menjual gas alam sebanyak mungkin. Hal ini, secara natural akan menjadikan Iran sebagai saingan dari Gazprom (saat ini belum, karena Iran melakukan ekspor ke Asia, bukan Eropa). Dalam kasus gas alam, tidak ada persainagn antara Rusia dan Arab Saudi. Sedangkan minyak adalah kasus yang berbeda. Kemitraan Rusia-Arab tentunya masuk akal, andaikata mereka mencapai titik temu atas konflik Suriah.

Salah satu cerita yang tidak diperhitungkan adalah ketika Rusia telah bekerja sama dengan Arab Saudi dan Turki di balik layar. Hal itu telah terjadi ketika para Menteri Luar Negeri AS, Rusia, Turki dan Arab Saudi bertemu di Wina. Pertemuan di Wina menjadi sangat penting karena bukan hanya karena duduk semeja dengan Iran – untuk pertama kalinya, tetapi juga karena kehadiran Mesir – dengan penemuan cadangan minyak terbaru dan telah memperkuat hubungan dengan Rusia.

Titik kunci peristiwa ini ada dalam deklarasi Wina, di bagian akhir, bahwa ‘proses politik akan diserahkan kepada rakyat Suriah, yang berhak sepenuhnya atas Suriah dan mereka yang menentukan masa depan Suriah’. Dan, bukan kebetulan jika hanya media Rusia dan Iran yang mengabarkan bagian akhir dari keputusan Wina tersebut, karena keputusan ini berarti adalah berakhirnya obsesi perubahan rezim di Suriah, yang diangan-angankan oleh Erdogan, AS dan House of Saud.

Namun hal ini juga tidak serta merta menunjukkan bahwa aliansi Rusia-Iran setuju 100% atas Suriah. Minggu ini, Komandan IRGC Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari menjelaskan bahwa Iran tidak memandang bahwa Bashar al-Assad adalah alternatif untuk memimpin Suriah. Ia bahkan mengakui bahwa Rusia juga tidak mungkin sepenuhnya sepakat atas pandangan ini.

Hanya saja, bukan itu masalah utamanya. Titik terpenting adalah berakhirnya opsi perubahan rezim yang dimainkan oleh Rusia. Hal ini menjadikan Putin bebas mengatur strategi. Ia mengucapkan selamat atas Erdogan dan Partai AKP-nya pada pemilu. Dan artinya, Rusia sekarang memiliki teman di Turki, yang tak hanya akan diajak berunding soal Suriah tetapi juga soal minyak.

Putin dan Erdogan akan melakukan pertemuan yang berhubungan dengan energi pada KTT G20 yang akan digelar pada 15 November di Turki. Juga, akan ada kunjungan dari Erdogan ke Rusia. Perjanjian/ kesepakatan Turk Stream, kemungkinan akan dicapai sebelum akhir tahun. Dan di lokasi Suriah Utara, Erogan telah dipaksa untuk mengakui kehebatan Rusia, bahwa skema zona larangan terbang tidak akan bisa terwujud.

***

Alasan nomor satu alasan Arab Saudi mengebom dan menyerang Yaman, adalah untuk mengeksploitasi lahan minyak di Yaman, yang merupakan proyek kerjasama dengan Israel. Kebodohan Arab Saudi, memilih berseteru dengan pasukan yang mengagumkan seperti Ansarullah, yang telah menyebabkan kepanikan di tengah pasukan bayaran Arab Saudi.

Riyadh, bahkan terpaksa merekrut Academi (atau yang sebelumnya dikenal sebagai Blackwater USA), untuk mengumpulkan tentara bayaran, sebagaimana yang dilakukan Academi di Kolombia. Hal ini diduga telah dirancang sedari awal, namun saat ini yang palung banyak disalahkan atas bencana militer akibat serangan terhadap Yaman adalah Pangeran Mohammad bin Salman.

Sementara itu, Qatar akan terus meratap karena mengandalkan Suriah sebagai jalur pipa gas guna melayani pelanggan di Eropa, atau setidaknya sebagai transit dalam hubungannya dengan Turki.

Sedangkan Iran, membutuhkan Irak dan Suriah untuk menyukseskan proyek Pipa Islam (pipa yang terbentang dari Iran-Irak-Suriah), karena Iran tidak bisa mengandalkan Turki. Intinya, gas Iran tidak akan menggantikan Gazprom sebagai sumber utama gas untuk Uni Eropa dalam waktu dekat.

Dalam hal minyak, Rusia dan Arab Saudi adalah sekutu yang terbentuk secara natural. Arab Saudi tidak mengekspor gas alam, sebagaimana yang dilakukan Qatar. Untuk menstabilkan kembali keuangan nearanya, Arab Saudi harus memotong kembali sekitar 10% dari produksinya bersama OPEC, dan jika bekerja sama dengan Rusia, maka harga minyak akan meningkat dua kali. Pengurangan 10% akan menciptakan uang untuk Arab Saudi. Jika Rusia dan Arab Saudi sepakat, maka harga minyak kemungkinan bisa mencapai 100 dollar per barrel. Namun hal ini tidak mudah. OPEC mengasumsikan bahwa harga minyak mentah hanya 55 dollar pada tahun 2015, dan seandainya harga minyak naik sebesar 5 dollar per tahun, maka harga minyak hanya menyentuh 80 dollar pada tahun 2020.

Sementara itu, dari berbagai spekulasi yang beredar, ISIS/ISIL/ IS, ternyata mampu meraup setidaknya 50 juta dollar per bulan dari penjualan minyak mentah dari ladang minyak yang dikontrol di Suriah.

Fakta bahwa ‘khilafah mini’ ini mampu memiliki peralatan, dan ahli teknisi dari luar negeri untuk mengontrol sektor energi, mengungkapkan adanya persekongkolan dengan Turki, yang menyediakan para ahli ditambah dengan peralatan untuk melakukan ekstraksi, perbaikan, produksi maupun transportasi aliran minyak. Negara-negara yang tergabung koalisi anti-ISIS seperti AS, Arab Saudi, dan Turki, sesungguhnya melakukan pengeboman terhadap infrastruktur energi milik Suriah, bukan memerangi ISIS. Atau, para aktor internasional ini sesungguhnya telah membantu ISIS untu menjual minyak mentah ke penyelundup atau di pasar gelap dengan harga 10 dollar per barrel.

Intelejen Rusia mencatat, bahwa ISIS mengambil alih peralatan militer AS yang memerlukan waktu beberapa bulan untuk menguasai cara penggunaannya. Artinya, mereka memiliki pelatih.

Sementara itu, AS mengirimkan pesan kepada Arab Saudi: jika Anda memilih Rusia, maka kami tidak akan membantu Anda.

Dan kita tahu, ISIS sama sekali tidak pernah menyinggung tentang membebaskan Yerusalem. Mereka, ingin membebaskan Mekkah dan Madinah. (LiputanIslam.com)

———

*Penulis adalah analis politik, yang buah pikirannya dimuat media-media terkemuka seperti Asia Times, Rusia Today, dan Tom Dispatch. Artikel ini diterjemahkan dari http://www.counterpunch.org/2015/11/06/whats-the-big-deal-between-russia-and-the-saudis/

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL