Baghdad,LiputanIslam.com-Sudah lebih dari sebulan gelombang unjuk rasa melanda ibukota Irak serta provinsi-provinsi bagian tengah dan selatan negara ini. Namun yang menarik adalah, lingkup geografis demo-demo ini tidak berubah. Sama sekali tak ada demo di provinsi-provinsi barat dan utara Irak.

Satu-satunya kabar yang tersiar dari provinsi yang tak dilanda demo adalah niat AS untuk membentuk tentara khusus dengan 4 ribu personel di pangkalan al-Janibiyah dan al-Baghdadiyah.

Terbetik kabar bahwa tentara ini akan dibentuk oleh sejumlah suku, seperti Albufahd dan Albualawan. Berdasarkan instruksi dari Washington, para relawan yang akan menjadi bagian dari tentara khusus ini akan memperoleh gaji amat menggoda hingga 3 ribu dolar. Bayaran sebesar ini beberapa kali lipat lebih banyak dari gaji perwira tentara Irak.

Juga dikatakan bahwa hal-hal di atas dilakukan seiring dengan upaya sejumlah politisi untuk membuat provinsi baru di sekitar provinsi al-Anbar. Provinsi baru ini direncanakan akan mencakup beberapa kota di perbatasan, yang secara administratif berhubungan dengan al-Anbar.

Sejumlah sumber di dewan provinsi al-Anbar menyatakan, langkah-langkah ini mungkin merupakan mukadimah untuk diumumkannya pembentukan “Teritori Barat” yang disokong AS. Penjagaan teritori ini rencananya akan diserahkan ke tentara baru.

Baca: Pemimpin Revolusi Iran Jelaskan Makna Pemusnahan Israel

Andai Baghdad dan provinsi-provinsi bagian tengah serta selatan berada dalam kondisi normal, kabar rencana pembentukan wilayah dan tentara baru ini tak akan dibiarkan begitu saja. Sebab, AS membayar 3 ribu dolar kepada 4 ribu serdadu bukan demi warga provinsi barat, tapi pasti ada sebuah konspirasi yang tengah dirancang atas Irak.

Sejak tahun 2003, AS tidak sungkan mengutarakan niatnya untuk membagi-bagi negara-negara di kawasan, terutama yang dianggap membahayakan Israel. Meski ISIS sudah diusir dari Suriah, namun AS, dengan dalih memerangi ISIS, masih membuat sejumlah pangkalan di utara Suriah. Tiada keraguan bahwa tujuan utamanya adalah menciptakan ketegangan di Suriah dan memecah belahnya demi kepentingan Rezim Zionis.

Kondisi Irak juga tak lebih baik dari Suriah. Washington berupaya membagi-bagi Irak dan menciptakan konflik kesukuan di antara bangsa Irak. Rencana AS membentuk tentara di provinsi barat Irak, dengan dalih membendung ancaman ISIS, adalah dalih yang menggelikan. Sebab, sama seperti di Suriah, riwayat ISIS sudah berakhir di Irak atau tengah dalam proses kepunahan. Sama sekali tak ada kebutuhan untuk membentuk tentara guna memerangi musuh yang tak punya eksistensi.

Kebijakan AS di hadapan ISIS adalah kebijakan dualisme. Andai AS serius memerangi ISIS, seharusnya mereka memberi hadiah kepada al-Hashd al-Shaabi yang telah mengalahkan kelompok teroris itu. Sebaliknya, AS justru memusuhi relawan Irak itu dan, bersama-sama Israel, menyerang basis-basis al-Hashd al-Shaabi. AS juga menyusupkan antek-anteknya di unjuk rasa Irak dan dengan memanfaatkan kekeruhan situasi negara, meneror para pahlawan al-Hashd al-Shaabi, seperti al-Alyawi, serta pengunjuk rasa lain.

Bukan sebuah kebetulan bahwa tindakan-tindakan AS terhadap al-Hashd al-Shaabi, seperti tuduhan bahwa kelompok relawan ini menggunakan gas air mata saat demo, atau di sisi lain, menutup-nutupi pelaku penembakan ke arah pendemo dan pembakaran instansi pemerintah, dilakukan berbarengan dengan kabar pembentukan wilayah dan tentara baru di barat Irak.

Saeed Mohammad (af/alalam)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*