Paul Craig[Baca bagian pertama: Amerika dan Dunia, Masa Depan Penuh Kengerian]

Pada tahun 1953 Dulles Bersaudara menggulingkan pemimpin yang dipilih oleh rakyat Iran, Mossadegh, lalu mengangkat Shah sebagai pemimpin Iran. Hal ini masih meracuni hubungan AS-Iran hingga sekarang. Amerika telah melalui perang yang mahal dan sia-sia untuk menjatuhkan Iran, akibat racun yang ditebarkan oleh Dulles Bersaudara pada tahun 1953.

Dulles Bersaudara menggulingkan presiden yang populer dari Guatemala, Arbenz, karena reformasi yang digalakkannya mengancam kepentingan Dulles Bersaudara. Dulles melancarkan kampanye disinformasi yang menggambarkan Arbenz sebagai komunis berbahaya yang mengancam peradaban Barat. Diktator Somoza di Nikaragua dan Batista di Kuba ikut melawan Arbenz. CIA mengorganisir serangan udara dan pasukan invasi. Tapi tidak ada hal signifikanyang terjadi sampai akhirnya dukungan kuat terhadap Arbenz dari rakyat Guatemala dihancurkan. Dulles mengatur rencana melalui Kardinal Spellman, yang mendaftarkan Uskup Agung Rossel Y. Arellano. Sebuah surat pastoral dibacakan pada tanggal 9 April 1954 di semua gereja Guatemala.

Sebuah propaganda dari surat pastoral yang disalahpahami. Arbenz disebut sebagai komunis berbahaya yangmerupakan musuh semua rakyat Guatemala. Siaran radio memproduksi realitas palsu kemenangan pejuang kemerdekaan, juga tentang pembelotan tentara. Arbenz meminta PBB untuk mengirim tim pencari fakta, tetapi Washington mencegah jangan sampai itu terjadi. Wartawan Amerika, kecuali James Reston, melakukan pembohongan terhadap publik. Washington mengancam, lalu ‘membeli’ komandan militer senior Guatemala, yang memaksa Arbenz mengundurkan diri. Lalu CIA mengangkat Kolonel Castillo Armas sebagai penggganti Arbenz.

Kita baru-baru ini menyaksikan operasi serupa di Honduras dan Ukraina.

Presiden Eisenhower mengucapkan terima kasih kepada CIA karena telah mencegah “komunis berpijak di bumi kita”, dan Menteri Luar Negeri John Foster Dulles melalui TV nasional dan radio mengungkapkan bahwa peristiwa Guatemala telah mengekspos niat jahat Kremlin. Sayangnya, fakta yang tidak bisa dibantah adalah bahwa satu-satnya kekuatan asing yang beroperasi di Guatemala adalah Dulles Bersaudara. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, pemerintahan yang demokratis dan reformis digulingkan karena menjadi batu sandungan bagi Dulles Bersaudara dan kroni-kroninya.

Rakyat Amerika yang mudah tertipu, media yang bobrok, Kongres yang impoten, memungkinkan bagi Dulles Bersaudara untuk menggulingkan pemerintah demokratis.

Perlu diingat bahwa kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah Amerika demi kepentingan pribadi telah terjadi 60 tahun yang lalu, jauh sebelum Clinton, George W Bush, dan Obama.

Yang menjadi korban Dulles Bersaudara berikutnya adalah Ho Chi Minh. Ho, yang merupakan seorang pemimpin nasionalis, meminta bantuan Amerika untuk membebaskan Vietnam dari pemerintahan kolonial Perancis. Tetapi John Foster Dulles yang mengklaim sebagai sosok paling anti-komunis, menyebut Ho sebagai komunis yang mengancam Barat. Nasionalisme dan anti-kolonialisme, menurut Dulles, hanyalah kedok yang biasa digunakan kelompok komunis.

Paul Kattenburg, dari Departemen Luar Negeri Amerika yang menangani Vietnam, menyatakan bahwa dibanding untuk berperang, seharusnya Amerika memberikan bantuan $500 juta untuk Ho agar bebas dari ketergantungan dan pengaruh Rusia dan Tiongkok. Ho berkali-kali mengajukan permintaannya kepada Washington, namun Dulles Bersaudara menghalangi. Selanjutnya, histeria ‘ancaman komunis’ kembali dikampanyekan secara masif, lalu Amerika menyerang Vietnam — yang berujung dengan perang jangka panjang yang mahal dan gagal – dan kita mengenalnya sebagai Perang Vietnam.

Kattenburg kemudian menulis bahwa tindakan memerangi Vietman adalah aksi bunuh diri, membutakan mata dan menulikan telinga, mengebiri kemampuan analitik, menutup diri dari kebenaran karena prasangka buta. Sayangnya, bagi Washington dan dunia, kemampuan analitik yang dikebiri adalah karakter Washington yang paling mencolok.

Target berikutnya dari Dulles Bersaudara adalah Presiden Soekarno dari Indonesia, Perdana Menteri Kongo Patrice Lumumba, dan Fidel Castro, dengan bantuan dari CIA. Presiden Kennedy bahkan kehilangan kepercayaan pada lembaga intelejen tersebut dan mengatakan kepada saudaranya, Bobby, bahwa setelah pemilihan ulang ia akan mencincang CIA menjadi ribuan serpihan. Dan ketika Allen Dulles disingkirkan, CIA memahami hal itu sebagai tanda bahaya, dan lebih dulu mengambil tindakan untuk menghantam Keneddy.

Warren Nutter, Asisten Menteri Pertahanan untuk Urusan Keamanan Internasional, mengajar murid-muridnya bahwa bagi pemerintah Amerika, demi menjaga kepercayaan masyarakat, mereka mengkomunikasikan secara terbuka hal-hal yang berkaitan dengan demokrasi, kebijakan pemerintah, dll. Namun untuk agenda tersembunyi seperti yang dilakukan oleh Dulles Bersaudara, Clinton, Bush, dan Obama, harus dilaksanakan dengan diam-diam, secara rahasia, agar jangan sampai membangkitkan ketidak-percayaan rakyat. Begitulah, ada banyak rakyat Amerika banyak yang tercuci otaknya, namun untungnya, tidak demikian halnya dengan masyarakat internasional.

Agenda rahasia pemerintah Amerika telah menelan biaya dalam jumlah yang sangat besar, baik yang dikeluarkan Amerika maupun yang harus ditanggung oleh negara-negara lain. Pada dasarnya, Dulles Bersaudara yang menciptakan Perang Dingin yang dengan tujuan/ keuntungan pribadi. Mereka juga berperan dalam kampanye anti-komunis. Agenda rahasia AS ini telah mengakibatkan perang panjang yang mahal, sia-sia, dan tidak perlu – di Timur Tengah dan Vietnam. Namun agenda rahasia CIA untuk mendongkel Presiden Kuba dihalangi oleh Presiden Keneddy, dan inilah sebabnya ia dibunuh dengan tangan dingin.

Agenda rahasia dilakukan (dan berhasil!) dalam kurun waktu yang sangat lama. Kini, rakyat Amerika sendiri akan merasakan kerusakan itu. Sebagaimana kata pepatah, bahwa ikan membusuk mulai dari kepala. Pemerintahan Washington yang busuk, akan mengancurkan seluruh warga negara, dan akan menghancurkan dunia. (ba/LiputanIslam.com)

Paul Craig Roberts adalah seorang ekonom terkemuka asal Georgia, Amerika Serikat. Kolumnis untuk Business Week, Scripps Howard News Service, yang mendapatkan atensi dari seluruh dunia. Buku yang ditulisnya antara lain The Failure of Laissez Faire Capitalism and Economic Dissolution of the WestHow America Was Lost, dan The Neoconservative Threat to World Order. Artikel ini diterjemahkan dari Globalresearch.ca.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL