Stephen_LendmanOleh: Stephen Lendman

Pentagon baru-baru ini merilis dokumen “Strategi Militer Nasional” yang mengindikasikan kemungkinan perang melawan musuh-musuh AS. Washington menyebut empat negara yang mengancam keamanan AS, yaitu Russia, China, Iran, danKorea Utara, plus kelompok-kelompok teror seperti ISIS (tanpa menyebut bahwa mereka justru dibentuk oleh AS).

Dokumen ini memutarbalikkan kebenaran; antara lain menyebut Rusia telah melanggar banyak perjanjian dan melakukan aksi-aksi militer. Iran dan Korea Utara disebut tengah membuat senjata nuklir. Pyongyang mungkin memang memiliki senjata nuklir itu, untuk pembelaan diri, bukan untuk menyerang. Sementara itu, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Tehran ingin membuat senjata nuklir, baik dulu atau sekarang. Banyak sekali bukti yang menunjukkan sebaliknya; yaitu bahwa Iran sama sekali tidak sedang memproduksi senjata nuklir.

China disebuat sebagai kekuatan regional yang menantang hegemoni AS. Pentagon merekomendasikan strategi yang disebut“deter(ing), deny(ing), and defeat(ing)” [mencegah, mengabaikan, mengalahkan] negara-negara yang dianggapnya mengancam keamanan AS; serta “disrupt(ing) and degrad(ing) non-state groups” [mengacaukan dan melemahkan kelompok-kelompok non-negara].

Dalam dokumen itu disebutkan:

“Tidak satupun dari 4 negara ini diyakini menginginkan konflik militer secara langsung dengan AS atau sekutu-sekutu kami; tetapi mereka memberikan ancaman serius terhadap komunitas internasional yang secara kolektif melakukan kebijakan yang sama, menyebarkan pesan yang sama, dan melakukan aksi-aksi yang terkoordinasi.”

Sementara itu, Jenderal Martin Dempsey (US Joint Chiefs Chairman) mengatakan bahwa keberhasilan AS “akan sangat bergantung kepada seberapa baik instrumen militer kita mendukung instrumen kekuatan nasional lainnya, dan bagaimana instrumen militer itu memperkuat jaringan sekutu dan partner kita.”

Dokumen itu juga menyatakan bahwa “Hari ini, kemungkinan keterlibatan AS di perang antaranegara melawan negara kuat, terlihat rendah, namun terus meningkat.”

Pada saat yang sama, konflik yang diistilahkan “hybrid conflicts” melawan aktor non-negara seperti ISIS, Al Qaeda, Taliban, dan kelompok-kelompok lain -yang sesungguhnya diciptakan AS- terlihat akan meningkat.

Pasca 9/11, Dick Cheney telah memperingatkan tentang adanya ‘perang tanpa akhir’. Manta Direktur CIA, James Woolsey, mengatakan bahwa AS sedang terlibat dalam Perang Dunia IV dan akan terus berlanjut selama bertahun-tahun.

George Bush menyebutnya “new world order” (Tatanan Dunia Baru), yaitu agresi AS yang tak berkesudahan untuk mendominasi dunia. Quadrennial Defense Review (QDR) yang dirilis Pentagon tahun 2006 menyebutnya “long war” (perang panjang) yang tiada akhir.

Jenderal Martin Dempsey mengatakan, “AS saat ini menghadapi tantangan keamanan yang banyak dan simultan, dari aktor tradisional (negara) dan jaringan trans-regional non-negara; mereka semua memanfaatkan perubahan teknologi yang pesat.”

“Kita sedang menghadapi perang yang panjang, bukan konflik yang bisa segera diselesaikan.” […] Oleh karena itu militer AS harus selalu “terlibat secara global”, kata Dempsey.

Makna “harus selalu terlibat secara global” bisa dimaknai bahwa AS tengah mengobarkan perang permanen terhadap musuh yang diciptakannya sendiri, yang bertujuan mengganti semua pemerintah independen dengan boneka yang bisa dikendalikan AS.

AS ingin “menguasai di segala sektor… bertindak secara seiring dengan yang lain.. atau secara unilateral, bila situasi menghendaki demikian,” demikian tertulis dalam dokumen itu.

Strategi militer AS antara lain “mendorong lebih keras terjadinya keseimbangan di Asia-Pacific, menempatkan kapabilitas kita yang paling canggih secara lebih banyak lagi di kawasan tersebut.” Pernyataan ini bisa dimaknai sebagai ‘komitmen terhadap sekutu NATO dan keamanan Israel.

Ashton Carter telah menggantikan Chuck Hagel sebagai Menteri Pertahanan pada pertengahan Februarilalu, merupakan indikasi lain bahwa AS tengah bersiap menghadapi perang lebih banyak lagi. Agresi Obama ke Yaman [dengan menggunakan tangan Saudi] terjadi beberapa pekan setelah pergantian jabatan ini. Begitu juga pasukan AS di Irak, mereka melanjutkan pengeboman terhadap infrastrukturekonomi Irak dengan alasan menyerang ISIS, dan strategi yang sama juga tengah dilakukan di Syria. Semua ini menunjukkan konflik berkepanjangan yang diinisiasi oleh AS.

Pada bulan Mei, Jenderal Dempsey mengumumkan pengunduran dirinya (namun akan efektif pada Oktober) dan akan digantikan oleh Jenderal Joseph Dunford, Jr. Julukan Dunford adalah “Fighting Joe”. Penunjukannya merupakan sinyal akan berlanjutnya perang proxy melawan musuh-musuh yang direkayasa.

Strategi AS menciptakan perang permanen, melawan satu negara, lalu negara lain, silih berganti, untuk meraih sebuah tujuan yang tak mungkin tergapai, ditambah dengan tersebarluasnya ketakutan, membengkaknya belanja militer, serta sikap represif pengontrolan atas warga negaranya, membuat negara ini akan menemui kehancurannya, sama seperti imperium-imperium di masa lalu. Hanya tinggal menanti waktu, AS akan hancur akibat arogansinya. (LiputanIslam.com)
Stephen Lendman adalah analis politik, bukunya berjudul “Flashpoint di Ukraina: US Drive Hegemoni Risiko WW III.” Tulisan ini diterjemahkan dari globalresearch.ca

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL