Beirut,LiputanIslam.com-Hizbullah pada Minggu sore (1/9) mengumumkan, pihaknya telah menargetkan sebuah kendaraan militer Israel di perbatasan Lebanon. Semua penumpang kendaraan itu dikabarkan tewas atau terluka.

Di pihak lain, meski mengakui adanya serangan itu, Rezim Zionis mengklaim tidak ada korban akibat serangan Hizbullah. Tel Aviv juga mengaku telah menembaki tempat asal serangan Hizbullah dengan 100 peluru mortir.

Kita tidak tahu apakah serangan Hizbullah itu adalah manifestasi ancaman Sayyid Hasan Nasrullah atau tidak. Dia telah mengancam akan membalas gugurnya dua anggota Hizbullah lantaran serangan rudal Israel di selatan Damaskus, juga membalas agresi nirawak Israel ke wilayah Lebanon untuk meneror salah satu petinggi Hizbullah. Alhasil, meski perwira militer Israel mengumumkan berakhirnya operasi, namun mereka menegaskan front utara masih dalam kondisi siaga penuh.

Apakah maksud Sayyid Nasrullah dari ancamannya ‘hanya’ serangan ‘terbatas’ ini?

Jawabannya bisa “ya” atau “tidak.”

“Ya” dari sisi bahwa Hizbullah menjawab agresi Israel di perbatasan Lebanon dan menghancurkan sebuah target militer, bukan di ladang-ladang Shebaa. Dengan demikian, Hizbullah telah mengirim pesan tegas kepada Israel, yaitu bahwa kelompok ini tak akan tinggal diam terhadap agresi-agresi berikutnya. Hizbullah juga tak akan membiarkan Israel mengubah ‘aturan main’ yang mulai terbentuk usai Perang 33 Hari.

“Tidak” dari sisi bahwa operasi Hizbullah tidak seperti yang diharapkan dan diduga sebelum ini. Banyak yang berpendapat bahwa balasan Hizbullah “tidak cukup menyakiti Israel,” juga belum sepadan dengan serangan Rezim Zionis ke basis Hizbullah di Suriah atau ke Beirut.

Dalam beberapa hari terakhir, media Lebanon dan Arab mengabarkan adanya tekanan dalam dan luar terhadap Hizbullah serta pribadi Sayyid Nasrullah. Menurut media, sejumlah pihak dalam dan luar memperingatkan agar Hizbullah tidak melancarkan serangan besar-besaran terhadap Israel, lantaran mereka mencemaskan balasan Israel kepada Lebanon. Tampaknya, sekjen Hizbullah juga mempertimbangkan tekanan-tekanan ini, walau hanya sementara. Sayyid Nasrullah berusaha agar Hizbullah tidak dituding oleh para penentang dalam negerinya (yang notabene memihak AS) telah mengancam keamanan dan stabilitas Lebanon. Dengan serangan ‘terbatas’ ini, pada hakikatnya sekjen Hizbullah mengirim pesan bahwa tujuannya adalah “mewujudkan keamanan bagi Lebanon.”

Ada juga pendapat lain, yang menyatakan bahwa serangan terbatas Hizbullah bukanlah perwujudan ancaman Sayyid Nasrullah yang telah menciutkan nyali orang Israel selama beberapa hari terakhir. Pendapat ini menyatakan, serangan ‘kecil’ itu hanya sebuah tes pertama, kendati Hizbullah juga belum merilis statemen untuk membenarkan atau membantah pendapat ini.

Kami meyakini, Benyamin Netanyahu sebagai pihak yang memerintahkan pengiriman nirawak ke selatan Lebanon, hingga kini bukanlah pemenang dalam duel singkat dengan Hizbullah. Dia tidak bisa memperkuat peluang kemenangannya dalam pemilu Israel. Hizbullah sudah kerap memamerkan ketangguhannya di hadapan Israel, dan akan membalas segala agresi baru Israel. Tentu kami juga berpendapat bahwa respon Hizbullah kemarin “sangat terbatas” dan masih di bawah level figur seperti Sayyid Nasrullah.

Kini kita menantikan kabar selanjutnya dari Hizbullah, juga Israel, terkait konfrontasi ini. Opini umum Arab juga menunggu tanggapan yang lebih jelas dan transparan dalam masalah ini.

Abdel Bari Atwan/Rai al-Youm

(af/alalam)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*