juan_coleOleh: Juan Cole*

Segera setelah jelas bahwa Andreas Lubitz, co-pilot Germanwings, secara sengaja menjatuhkan pesawat bernomor 9525 itu, seorang reporter televisi bertanya, “Apa agamanya?” (Lufthansa, perusahaan induk Germanwings menjawab, mereka tidak tahu). Sementara pejabat yang berwenang menyatakan tidak ada bukti bahwa aksi Lubitz adalah “terorisme.”

Lubitz (28 tahun) berasal dari Rhineland-Palatinate, yang terkenal dengan produk anggur dan obat-obatan. Sekitar dua perlima penduduknya adalah Katolik Roma dan sepertiga lainnya Lutheran. Seperempat penduduk lain kota itu tidak terlalu peduli soal agama.

Lalu, mengapa agama menjadi dianggap relevan? Jika dia sengaja menjatuhkan pesawat, kemungkinan dia depresi dan tidak hanya ingin bunuh diri tetapi juga melakukan pembunuhan massal. Kita bisa menganalisis bahwa seseorang yang sangat depresi dengan kepercayaan diri yang amat rendah akan berpikir bahwa dengan mencabut nyawa orang lain, dia bisa meningkatkan egonya karena merasa ‘berkuasa’.

Aksi Lubitz memang bukan terorisme politik, tetapi jelas ini adalah aksi teror pembunuhan.

Tetapi kita tahu, mengapa agama Lubitz dipertanyakan. Pertanyaan ini muncul dari sikap fanatik dalam memandang Muslim. Yang tersirat dari pertanyaan ini adalah, hanya Muslim yang melakukan terorisme dan bahwa orang Kristen kulit putih tidak mungkin melakukan kejahatan yang sangat buruk, meskipun kenyataannya, banyak dari mereka yang melakukannya. Sangat tidak logis menanyakan agama Lubitz yang berasal dari Rhineland-Palatinate.

Berikut ini 10 anggapan yang salah, tapi umum terjadi dalam opini publik Barat, mengenai beda antara ‘teroris berkulit putih’ dengan ‘teroris lain’:

1. Teroris berkulit putih disebut ‘pria bersenjata’. Apa maksudnya? Seseorang dengan senjata? Kalau demikian, tidakkah hampir semua orang AS adalah teroris (karena mereka bebas memiliki senjata)? Sementara, ‘teroris lain’ disebut ‘teroris’.

2. Teroris berkulit putih adalah ‘pelaku kejahatan tunggal’. Teroris lain selalu dicurigai menjadi bagian dari plot global, bahkan ketika mereka jelas-jelas pelaku kejahatan tunggal.

3. Melakukan studi terhadap bahaya ‘teroris berkulit putih’ di Departemen Keamanan Dalam Negeri akan ditentang dengan marah oleh anggota Parlemen berkulit putih. Melakukan studi terhadap teroris lain akan diberi kenaikan pangkat.

4. Keluarga teroris berkulit putih akan diwawancarai, dan mereka menangis karena heran, mengapa dia (si teroris) melakukan kesalahan. Keluarga teroris lain tidak pernah diwawancarai.

5. Teroris berkulit putih adalah ‘sempalan’, sementara teroris lain adalah ‘mainstream’. [teroris putih sangat jarang muncul, sementara non kulit putih memang teroris—pent].

6. Terorisme yang dilakukan oleh orang kulit putih sangat jarang terjadi. Sementara terorisme lain adalah konspirasi yang berkepanjangan dari masa ke masa.

7. Teroris berkulit putih tidak pernah disebut “orang berkulit putih” tetapi teroris lain selalu disebut apa etnis dan agamanya.

8. Teroris berkulit putih tidak dianggap representasi dari bangsa kulit putih. Teroris lain dianggap sebagai ‘wakil’ dari masyarakatnya.

9. Teroris berkulit putih adalah sosok pecandu alkohol atau narkoba, atau sakit jiwa. Teroris lain dipandang hidup bersih dan waras.

10. Tidak ada yang bisa dilakukan warga Barat terhadap teroris berkulit putih. Tidak ada pembatasan kepemilikan senjata, tidak ada kebijakan, atau program pemerintah yang bisa dilakukan untuk menghalangi teroris berkulit putih. Tetapi, milyaran dollar harus digunakan oleh polisi dan Departemen Pertahanan untuk menelisik kehidupan 60 juta warga negara setiap tahunnya, untuk menghadapi ‘teroris lain’.

Salah satu contoh kasus adalah kasus Eric Rudolph yang dihukum mati pada tahun 2005 atas aksi teror pembunuhan. Dia melakukan empat pengeboman di daerah tenggara Amerika Serikat. Di antara kejahatannya adalah meledakkan sebuah klinik aborsi di Birmingham, Alabama, yang menewaskan seorang polisi, dan pengeboman Olimpiade 1996 di Atlanta, Georgia.

Kakak ipar Rudolph memberi kesaksian bahwa aksi Rudolph didorong oleh ideologi kelompok Kristen tertentu yang penuh kebencian (kelompok yang bernama “Christian Identity”). Kasus serupa juga terjadi pada Terry Nichols, pelaku pengeboman di Oklahoma City yang terkait dengan “Christian Identity”.

Tentu saja, Anda tidak akan melihat hal ini disebut-sebut dalam judul berita surat kabar Amerika. Hal sebaliknya akan terjadi juga seorang Muslim yang melakukan aksi seperti Rudolph. Dengan segera, media massa akan meletakkan label “teroris Islam”.

*Juan Cole adalah profesor sejarah dan penulis buku dari AS; tulisan ini diterjemahkan dari 3 artikelnya yang dimuat di www.juancole.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*