Dina Y. Sulaeman*
dina2Setiap penggemar Donald Bebek pastilah mengenal kota ini: Timbuktu. Donald selalu menjadikannya tempat pelarian saat stress. Tak heran bila di facebook terkadang muncul status frustasi, should I pack my things and go to Timbuktu?

Terletak di Mali, Afrika utara, kota ini memiliki sejarah peradaban yang sangat panjang. Pelancong bernama Leo Africanus dalam bukunya ‘Description of Africa’ (1550) menulis bahwa Timbuktu pada masa itu adalah pusat perdagangan yang sangat ramai. Kerajaan Mali sangat kaya, berlimpah emas, dan berperadaban. Yang paling unik, para pedagang terkaya di Timbuktu adalah pedagang buku. Mereka menjual buku-buku, mulai dari astronomi, aritmetika, hingga agama dan sufisme, di bawah menara-menara masjid yang megah.

Peradaban Timbuktu dibangun oleh suku Tuareg. Jonathan Jones dari The Guardian menulis bahwa suku Tuareg menulis sendiri kitab-kitab sejarah dan hukum, serta menyimpan dengan baik naskah-naskah puisi dan prosa karya orang-orang Afrika Utara. Ketika Eropa menjajah Afrika, termasuk Timbuktu, pada abad ke-19, mereka berusaha menggambarkan bahwa Afrika sebagai benua terbelakang dan tak mengenal aksara. Koleksi manuskrip di Timbuktu membuktikan kisah sebaliknya. Di kota ini, jutaan naskah kuno disimpan rapi di perpustakaan-perpustakaan yang resmi dikelola pemerintah (dan dibantu oleh UNICEF), maupun sekitar 80 perpustakaan pribadi.

Tahun 1960, Mali meraih kemerdekaan. Namun suku Tuareg malah disingkirkan dan direpresi oleh pemerintah Mali sehingga mereka pun melakukan aksi-aksi pemberontakan. Front pemberontak Tuareg kemudian terpecah-belah, sebagiannya bersekutu dengan Al Qaida in The Land of Islamic Maghreb (AQIM) yang berbasis di Aljazair. Kehadiran Al Qaida di Mali, menjadi dalih bagi Perancis (dibantu Kanada, Jerman, Belgia, dan AS) untuk mengirim pasukannya ke Mali dan melancarkan ‘perang melawan terorisme’. Tapi tentu saja, bila Mali tak sangat kaya barang tambang, mana mungkin mereka ‘berbaik hati.’

Dan bila para pejuang asli suku Tuareg selama ini selama berabad-abad selalu menjaga peninggalan bersejarah suku mereka, tak demikian yang dilakukan oleh para ‘mujahidin’ Al Qaida ini. Pada awal tahun 2013, Al Qaida membakar perpustakaan-perpustakaan di Timbuktu; menghancurkan jutaan naskah kuno Islam yang tak ternilai harganya. Mereka juga menghancurkan 300 makam para sufi di kota itu. Jejak-jejak Timbuktu sebagai pusat keilmuan Islam di Afrika kini hancur lebur.

Tragedi Timbuktu juga terjadi di Suriah. Al Qaida menghancurkan patung penyair Abu Tammam Habib ibn Aws, al-Ma’arri, dan Harun Al Rasyid, serta makam sahabat Rasulullah. Bahkan sebatang pohon tua berusia 150 tahun di kota Atmeh pun menjadi korban: ditebang habis. Alasannya, syirik. Jangan lupakan pula apa yang dilakukan Al Qaida di Afghanistan pada tahun 2001, mereka menghancurkan patung Budha berusia 2200 tahun.

Aksi-aksi penghancuran situs bersejarah ini mengingatkan kita pada kota Yogyakarta. Pada bulan September 2013, kompleks pemakaman keluarga Keraton Yogyakarta dirusak oleh sejumlah orang bercadar. Selain merobohkan sejumlah nisan, mereka mencorat-coret komplek makam dengan tulisan syirik, haram. Aksi ini terindikasi berada dalam satu haluan dengan aksi-aksi kelompok-kelompok yang membawa kata ‘jihad’ di Yogya. Mereka gigih menyesatkan dan mengancam serangan fisik kepada pihak-pihak yang mereka anggap sesat. Belum lepas pula dari ingatan, pada tahun 2011, gereja Bethel di Solo diledakkan oleh bom bunuh diri.

Fenomena ini agaknya indikasi kuat bahwa gelombang paham ala Al Qaida (Wahabisme) sudah sampai di Yogyakarta; kota yang biasanya identik dengan buku, ilmu, dan intelektualitas. Secara umum, metode ‘perjuangan’ Al Qaida berupa pengkafiran pihak lawan, bom bunuh diri, dan pembantaian massal. Sektarianisme dan radikalisme yang berakar dari paham Wahabi memang semakin marak di Indonesia sejak pecahnya konflik Suriah. Perekrutan relawan jihad ke Suriah untuk ‘menggulingkan rezim sesat dan kafir Bashar Assad’ dilakukan secara terbuka dan menurut Aljazeera, sudah 55 ‘mujahidin’ asal Indonesia yang tewas di Suriah. Lalu kemana pemerintah?

Setidaknya, Direktur BNPT, Ansyaad Mbai, telah blak-blakan memperingatkan publik bahwa kepulangan ‘mujahidin’ dari Suriah berpotensi besar membawa konflik di Indonesia, sebagaimana dulu para ‘alumni’ Afghanistan membentuk kelompok teror di negeri ini.

Pemerintah dan masyarakat Indonesia sudah selayaknya mewaspadai fenomena ini. Jangan sampai Yogyakarta (dan Indonesia pada umumnya) senasib dengan Suriah. Atau Timbuktu.(liputanislam.com)

*penulis adalah mahasiswa program doktor Hubungan Internasional Unpad, peneliti di Global Future Institute

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL