Oleh: Tom Saptaatmaja *)

FOTO TOM SAPTAATMAJA NOV 2013(1)Piala Dunia 2014 akan dimulai kurang dari sebulan lagi di Sao Paulo, Brazil. Bisa dipastikan, milyaran manusia di seluruh dunia akan memusatkan perhatiannya pada pertandingan penting ini. Sepakbola memang olahraga yang digemari banyak orang, selain sarana untuk menyehatkan raga. Namun, sejarah juga mencatat bahwa, sepakbola tidak semata-mata olahraga dan hiburan, melainkan terkadang ditunggangi oleh kepentingan politik. Misalnya saja, dulu tahun 1930-an, pemimpin Italia, Benito Mussolini menjadikan ajang Piala Dunia sebagai kampanye politiknya.

Kasus yang terbaru adalah peristiwa yang menimpa Nicolas Anelka. Masa depan dan karirnya di sepakbola terancam, gara-gara sebuah selebrasi yang dipersepsi sebagai tindakan rasis dan anti-Yahudi. Akibatnya, pemain bola muslim berusia 34 tahun asal Prancis ini dipecat dari klub Liga Primer Inggris West Bromwich Albion (WBA). Pasca pemecatan itu, klub asal Brasil Atletico Meniero berniat mengontraknya. Tapi batal juga. Nama Nicolas pun tidak masuk dalam skuad Prancis untuk Piala Dunia 2014 di Brasil.

Semua masalah Anelka berawal ketika dia menampilkan gestur quenelle sebagai bentuk selebrasinya usai merayakan gol sehingga timnya bisa imbang 3-3 melawan West Ham, Sabtu (28/12/2013). Quenelle memang dianggap gestur anti-Yahudi. Meskipun Anelka membantah dirinya anti-Yahudi dan berulangkali menegaskan bahwa gestur quenelle semata-mata dilakukan sebagai simbol rasa salutnya terhadap sahabatnya, komedian Prancis terkenal Dieudonne M’Bala M’Bala yang memperkenalkan gestur tersebut.

Roger Cukierman, Presiden Conseil Representatif des Institutions juives deFrance (CRIF), yang mewakili kepentingan Yahudi di Prancis, serta wakil Presiden World Jewish Congress, sudah membela Anelka. Menurut mereka, tindakan Anelka bisa dimaknai sebagai anti-Yahudi jika dilakukan di depan sinagoga atau pada peringatan Holocaust. Namun Kongres Yahudi Eropa sudah terlanjur mengutuk dan menjatuhkan vonis pada Anelka.

‘Hukuman’ untuk Anelka ini mungkin ada kaitannya dengan statusnya yang Muslim. Mereka yang tidak mengerti sejarah akan menggeneralisasi sikapnya sebagai representasi dunia Islam terhadap Yahudi. Padahal sikap anti-Yahudi itu tidak memiliki landasan yang kuat dalam sejarah Islam. Di banyak negara Islam, seperti Iran dan Maroko, umat Yahudi justru mendapat perlindungan serta menikmati rasa aman. Di Iran misalnya, banyak ditemukan sinagoga atau tempat ibadah orang Yahudi. Bahkan Nabi Muhammad SAW pun pernah menyuapi seorang pengemis buta Yahudi, yang doyan memaki dan mengumpat pada Sang Nabi.

Sikap anti-Yahudi justru dapat ditemukan jejak panjangnya dalam sejarah Eropa. Suasana kebencian itu misalnya tampak dari tradisi tiap Jumat Agung dalam Gereja Eropa untuk ”menjewer” kuping orang Yahudi sebagai balasan atas penghinaan mereka yang menyebabkan Yesus disalib (P.G.Aring, Christlichen Judenmission, Neukirchen, 1980, hal 20 dan 21). Untunglah tradisi itu kini sudah tidak ada.

Pada abad pertengahan, orang Yahudi selalu menjadi kambing hitam atas segala macam keburukan yang terjadi dalam masyarakat Eropa. Di Eropa Tengah, di daerah yang kemudian bernama Jerman, terdapat catatan sejarah tentang tuduhan ”tumbal darah”, klaim bahwa Yahudi mempraktikkan ritual pengorbanan anak-anak Kristen. Rumor semacam itu sering berakhir dengan serangan pada orang-orang Yahudi. Ini mirip dengan tuduhan dukun santet di Jawa Timur yang kerap berakhir dengan pembunuhan pada si dukun oleh masyarakat yang sudah dibakar api kebencian.

Dr Anton Wessels, guru besar di Vrije Universiteit Amsterdam dan pernah mengajar di Sekolah Tinggi Teologi Beirut punya segudang bukti betapa sejarah gereja amat diwarnai darah orang Yahudi. Misalnya, dalam tahun 1095, ketika Paus Urbanus II memaklumkan Perang Salib, yang jadi korban ternyata bukan hanya kaum muslim tapi juga Yahudi. Ketika para Tentara Salib mau berangkat ke Tanah Suci di Palestina, mereka membunuhi orang-orang Yahudi di daerah Sungai Rhein yang merupakan kawasan tertua Yahudi di Eropa. Alasannya, karena orang Yahudi dianggap sebagai pembunuh Yesus dalam peristiwa Jumat Agung. Kebencian itu memuncak menjadi Holacaust, ketika Adolf Hitler membunuh sangat banyak orang Yahudi.

Boleh jadi karena dihinggapi rasa bersalah atas tragedi memilukan tersebut, negara-negara Eropa, khususnya Inggris berupaya mewujudkan berdirinya sebuah negara Israel, sebagaimana diimpikan oleh Zionisme. Gerakan Zionisme Internasional adalah sebuah gerakan politik kaum Yahudi di seluruh dunia untuk mendirikan negara khusus umat Yahudi. Doktrinnya dimaklumkan dalam Kongres Zionis Sedunia pertama di Basel, Swiss, pada 1897. Deklarasi Balfour pada 1917, membantu merealisasi hal itu. Semula yang dipilih adalah Uganda atau salah satu negara di Afrika. Tapi akhirnya pilihan tetap jatuh ke Tanah Palestina, yang tentu sudah dihuni oleh banyak orang Palestina.

Negara Israel pun akhirnya berdiri pada 15 Mei 1948, dengan mengusir banyak orang Palestina dari kampung halaman mereka. Jadi dahulu yang menjadi korban (Yahudi) oleh Nazi, akhirnya menjadi penindas bangsa lain (dalam hal ini Palestina).

Kekuasaan dan kekayaan kaum Yahudi di dunia semakin lama semakin besar, sehingga mereka bisa memaksakan politik mereka ke berbagai lini kehidupan dunia, termasuk sepakbola. Anelka adalah salah satu korbannya. Hanya gara-gara sebuah gestur yang dicap anti-Yahudi, karir dan masa depannya dalam dunia sepakbola telah ‘dibunuh’. Sepakbola, seharusnya dihindarkan dari politik dan menjadi milik semua umat.

 

*Kolumnis, penggemar bola dan akivis lintas agama, tinggal di Surabaya

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL