Paul CraigOleh: Paul Craig Roberts

Apakah Anda ingat bagaimana harapan rakyat Amerika ketika memilih Obama sebagai presiden pada periode pertama? Sungguh, kenangan yang menyakitkan. Dia mengkhianati semua janji terhadap pemilihnya. Tidak ada perubahan apapun, kecuali bahwa kini Obama menjadi salah satu penjahat perang yang paling kejam dalam sejarah dunia. Namun meskipun rekam jejaknya buruk, kita kembali memilihnya untuk periode yang kedua, yang membuat ekonomi AS semakin terpuruk demi menyelamatkan golongan ‘Satu Persen’.

Sekarang kita menghadapi prospek pemilihan presiden yang jauh lebih buruk dari Obama-Hillary Clinton. Hillary adalah “pembeli dan penjual” properti dari Wall Street, Israel, dan kompleks militer. Ia akan menyalakan kembali neokonservatif, dan AS akan melanjutkan pembantaian di negara-negara lain.

Pertanyaannya adalah, apakah rakyat Amerika yang riang dapat disejajarkan dengan ‘Satu Persen’, sebuah kelompok neokonservatif, homoseksual, trangender, pembenci kaum feminis,yang menempatkan presiden AS di tangan yang agresif, korup dan tidak memiliki nurani? Jika AS dipimpin oleh Hillary, maka AS dan seluruh dunia akan menganggung kesalahan ini. Dia akan menjadi Presiden Ameria yang terakhir.

Hillary berkompromi dengan agenda rahasia: konflik dan perang. Hillary dengan gila menyebut Presiden Vladimir Putin yang merupakan pembawa perdamaian terkemuka – sebagai ‘Hitler Baru’. Jenderal Amerika yang gila menyebut Rusia sebagai ancaman eksistensial Amerika. Dan neokonservatif yang gila memaksakan hegemoni Amerika di seluruh dunia. Terpilihnya Hillary, akan mengakhiri kehidupan di bumi.

Rahasia Agenda Washington

Secara berkelanjutan, rakyat Amerika telah tertipu atas agenda tersembunyi yang dijalankan oleh pemerintah mereka.

Mulai dari kebohongan tentang Taliban. Amerika menghabiskan waktu selama 13 tahun untuk memerangi Afghanistan, yang hanya memperkaya perusaahaan Dick Cheney, Halliburton, dan kepentingan pribadi koorporasi lainnya. Publik kembali dibohongi ketika Saddam Hussain di Irak dituduh memiliki senjata pemusnah massal, yang dianggap sebagai ancaman bagi Amerika. Lalu berkembangnya ISIS, dan Amerika mengklaim memeranginya, namun masalahnya jauh dari selesai. Miliaran dolar keuntungan masuk ke pundi-pundi kompleks militer AS demi usaha menggambar ulang peta Timur Tengah.

Rakyat Amerika kembali dibohongi, ketika mereka menyerang Qaddafi di Libya. Negara yang dulunya stabil dan makmur sekarang terperosok ke dalam jurang kehancuran. Mereka dibohongi bahwa Iran memiliki, atau sedang menciptakan senjata nuklir. Iran dikenakan sanksi berlapis.

Rakyat Amerika dibohongi bahwa Assad di Suriah menggunakan senajata kimia kepada rakyatnya sendiri. Para jihadis dikirim Washington untuk menggulingkan Assad, namun kini mereka mengubah narasi propaganda: jihadis-jihadis itu mengancam Amerika!

Sesungguhnya, ancaman terbesar bagi dunia adalah tekanan dan hegemoni Amerika. Ideologi dari segelintir neokonservatif adalah awal mula dari berbagai tekanan ini. Kita menghadapi situasi manakala beberapa psikopat konsevatif Amerika mengklaim bahwa mereka yang menentukan nasib negara.

Masih banyak yang percaya pada kebohongan Washington, tetapi dunia telah membuka mata lebar-lebar, dan melihat Washington sebagai ancaman terbesar bagi perdamaian dan kehidupan di bumi. Klaim bahwa Amerika sangat luar biasa dan sangat dibutuhkan, digunakan sebagai propaganda untuk melegitimasi Washington untuk mendikte negara-negara lainnya.

Korban pengeboman AS adalah rakyat sipil. Semakin tingginya angka kematian, maka semakin banyak pula orang-orang yang bersedia direkrut unutk bergabung dengan ISIS. Sudah ada panggilan agar Washington kembali menempatkan pasukan daratnya di tanah Irak. Propaganda terus berlanjut, kali ini menyebut bahwa Rusia adalah ancaman – dan karenanya, butuh lebih banyak perlengkapan dan pangkalan militer di sepanjang negara-negara yang berbatasan dengan Rusia. Ini disebut sebagai ‘reaksi cepat’ atas tidak adanya invansi dari Rusia, Polandia, ataupun Eropa. Bukankah hal ini menggelikan?

Biasanya butuh waktu setahun, dua tahun, tiga tahun, atau empat tahun, bagi rakyat Amerika untuk menyadari bahwa mereka telah ditipu dan termakan propaganda. Namun saat sadar, disaat yang sama, mereka kembali menelan propaganda baru — yang membuat mereka kembali merasa khawatir akan ancaman tertentu. Rakyat Amerika sepertinya tidak mampu memahami bahwa sebagaimana propaganda ‘adanya ancaman’ yang pertama, kedua, ketiga, keempat, maka sebenarnya ‘adanya ancaman’ yang kelima juga bohong. Begitu juga dengan propaganda ‘adanya ancaman’ yang keenam, ketujuh, dan seterusnya.

Selain itu, sebagaimana yang ungkapkan oleh Presiden Vladimir Putin, tidak da satupun dari serangan –serangan militer Amerika ke negara-negara lain menghasilkan situasi yang lebih baik. Namun anehnya, masyarakat dan wakil-wakil mereka di Kongress mendukung setiap petualangan militer baru meskipun sarat penipuan dan berakhir dengan kegagalan dan kehancuran.

Mungkin jika rakyat Amerika diajarkan sejarah yang benar, mereka tidak akan begitu mudah tertipu. Saya telah merekomendasikan buku Oliver Stone dan Peter Kuznick yang berjudul The Untold History of Amerika Serikat, dari Howard Zinn yang berjudul A People’s History of the United States, juga buku Stephen Kinzer yang berjudul The Brothers, yang mengangkat kisah panjang John Foster dan Allen Dulles tentang departemen pemerintahan AS dan CIA yang berhasil menumbangkan negara-negara lain. Sejarah yang ditulis oleh Kinzer tentang Dulles bersaudara dalam menggulingkan enam pemerintah, bisa menjadi wawasan tambahan tentang bagaimana Washington beroperasi hari ini. (Bersambung ke bagian kedua: AS dan Dunia, Masa Depan Penuh Kengerian (2) )

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL