Pepe Escobar

Pepe Escobar

Oleh: Pepe Escobar*

Turki telah menembak jatuh pesawat Su-24 Rusia dengan menggunakan F-16 buatan Amerika Serikat pada (24/11/2015). Klaim bahwa penembakan tersebut dilakukan tanpa adanya restu dari AS telah menimbulkan keraguan/ ketidak-percayaan.

Turki ibaratnya hanyalah bawahan, tangan kiri NATO, dan merupakan tangan AS di kawasan Eropa. AS sendiri telah menolak disebut terlibat. Itu wajar saja, jika kita mempertimbangankan rekor kegagalan strategi mereka yang sudah tidak bisa ditanggung lagi. Bisa saja, kekuatan yang tengah bermain adalah jenderal neokon yang mengendalikan Pentagon, dan bersekutu dengan neokon pemerintahan Obama.

Skenario khusus yang dipersiapkan untuk Turki yang dipimpin ‘Sultan’ Erdogan tak ubahnya malah ibarat bom bunuh diri, dan hal itu menunjukkan keputus-asaan yang sangat.

Alasan yang dipakai Erdogan adalah alasan gila. Tragedi Paris sendiri merupakan sebuah kemunduran. Perancis mulai berdiskusi untuk menjalin kerjasama militer dengan Rusia, bukan dengan NATO. Sementara AS selama ini selalu mengharapkan NATO berada di Suriah. Turki menyerang pesawat tempur Rusia, dan berusaha agar Rusia terprovokasi. Erdogan mengira ia akan berasil menggoda NATO untuk datang ke Suriah dengan menggunakan dalil Pasal Kelima NATO untuk membantu Turki.

Presiden Vladimir Putin menyebut hal ini sebagai ‘tikaman dari belakang’. Sebab, semua data mengarah pada penyergapan: F-16 telah benar-benar menunggu Su-24 (untuk kemudian menembaknya). Kamera Turki telah bersiaga untuk mendokumentasikan.

Dua pesawat temput Su-24 sedang bersiap-siap untuk menyerang sekelompok ‘pemberontak moderat’, yang oleh Turki disebut Turkmen. Turki selama ini membiayai dan mempersenjatai mereka, dan hanya ada sekelompok kecil Turkmen di kawasan utara Suriah.

Su-24 beraksi setelah Chechya dan Uzbekistan, dan juga orang-orang Uyghurs, menyelinap dengan menggunakan paspor palsu Turki. Mereka semua beroperasi bersama-sama dengan Turki. Sebagian besar orang asing ini beroperasi di dalam pasukan Free Syrian Army dan Jabhat al-Nusra. Mereka inilah yang lantas menembak pilot Rusia yang hendak menyelamatkan diri dengan parasut.

Menghadapi Reaksi Rusia

Sebenarnya, Su-24 sama sekali tidak membahayakan Turki. Surat dari Duta Turki kepada Dewan Keamanan PBB tak lebih dari sekedar lelucon belaka. Turki mengklaim bahwa mereka telah memberi peringatan sebanyak 10 kali dalam waktu lima menit agar mengubah arah, karena keduanya terbang lebih dari satu mil selama kurang lebih 17 detik. Tentu saja klaim ini hanyalah upaya untuk menghilangkan prasangka. Lantas bagaimana dengan Turki dan NATO? Bukankah pesawat tempur mereka juga melintasi wilayah udara Suriah sepanjang waktu?

Erdogan mengetahui dengan sangat baik tentang neokon AS yang marah kepada Presiden Perancis Francois Hollande. Setelah mengumumkan perang terhadap ISIS, Hollande ternyata menjalin kerjasama dengan Rusia.

Sehingga, target Erdogan sebenarnya bukanlah Su-24. Setelah serangan Paris, koalisi anti-ISIS telah mengalami perkembangan. AS, Inggris, dan Perancis berada di satu sisi, sementara koalisi 4+1 (Rusia, Suriah, Iran, Iraq plus Hizbullah) di sisi yang lain, yang pada akhirnya berhasil mempertemukan kepentingan mereka yaitu memerangi ISIS bersama-sama.

Tentu saja hal ini akan membuat Turki tinggal sendirian, padahal selama ini, selama bertahun-tahun Turki telah berinvestasi pada jihadis-salafi dari Jabhat al-Nusra hingga Ahrar al-Sham dan juga teroris dengan nama lainnya. Puncaknya, ketika Turki bersekongkol membantu dan membiayai ISIS.

Erdogan, dengan segala tujuan praktisnya, telah menggenggam infrastrukur dan pusat logistik jihadis-salafi. Turki membiarkan perbatasannya menjadi jalan keluar bagi jihadis dari Suriah yang hendak menuju Eropa, memfasilitasi polisi yang korup, membiarkan terjadinya penyelundupan segala bentuk barang jarahan dan termasuk pencucian uang.

Sehingga, dengan sebuah misil, Erdogan berpikir bahwa senjata ini mungkin cukup untuk merubah keadaan.

Ikutilah jalan atau aliran uang. Bahkan, di AS dan Eropa sekalipun permainan Turki ini sudah disingkap. Sebuah paper penelitan dari Columbia University secara detail telah mengulas hubungan yang terjalin antara Turki dengan ISIS.

Bilal Erdogan, putra Sang Sultan, adalah pihak yang sangat diuntungkan dengan adanya perdagangan ilegal minyak curian oleh ISIS. ISIS menjarah minyak milik Suriah. Bayangkan serangan seperti apa yang harus ia hadapi setelah Putin mengungkap dalam pertemuan G-20 di Antalya! Intelejen Rusia telah mengidentifikasi mafia yang terkoneksi dengan ISIS.

Bayangkan ketika mafia Turki kehilangan prospek untuk mendapatkan keuntungan. Mereka akan kehilangan kesempatan untuk membeli minyak curian sekitar 50 juta dollar per bulan. Angkatan Udara Rusia benar-benar menghancurkan ladang minyak, penyulingan, dan lebih dari 1.000 truk tangki minyak. Lalu bayangkan, aliran minyak berarti aliran uang. Karena Rusia-lah, Smugglers Inc (mafia penyelundup-red), harus gigit jari.

Komando NATO (untuk berperang melawan Rusia-red) mungkin hanya sebuah lelucon. Para jenderal NATO bukanlah orang-orang yang bodoh. NATO tidak akan berperang dengan Rusia demi ‘bawahan’. Dan Rusia, tidak akan memberikan alasan bagi NATO untuk memeranginya.

Dalam panggung Big Power Politics, kita bisa kembali pada masa tingginya tensi antara Rusia dengan Kekhalifahan Ottoman. Tetapi semua itu membutuhkan waktu. Respon Rusia sejauh ini masih ‘cool’ alias tenang, telah dikalkulasi dengan baik, sasarannya luas dan dilakukan dengan cepat dan tak terduga. Tak ada reaksi dari Rusia yang bisa dijadikan pembenaran bagi AS dan sekutunya untuk mempersenjatai ‘pemberontak moderat’ dalam kekuatan penuh.

Yang pasti adalah Rusia akan mengerahkan kekuatan dahsyatnya untuk mengebom jalur suplai Turki kepada ISIS di utara Suriah, sebagaimana Rusia telah menghancurkan minyak-minyak curian yang hendak diselundupkan menuju Turki.

Ketika Sultan Menggila

Rusia bisa memainkan berbagai opsi untuk meningkatkan tekanan. Misalnya, dengan mengirimkan sistem pertahanan udara S-300 dan S-400 di perbatasan Turki-Suriah. Pertahanan udara itu akan menjadi zona larangan terbang, yang dengan izin Suriah, segala pesawat yang melintas harus mendapatkan izin dari pemerintah. Percayalah, Sultan Erdogan tak akan berani untuk melanggarnya.

Keputus-asaan Erdogan mengungkapkan adanya hal terakhir yang diinginkannya, yaitu proses perundingan Wina yang mengarah pada perdamaian. Dalam pertemuan terakhir, tuntutan ‘Assad harus mundur’ tidak lagi dibahas. Tentu saja, jika Suriah stabil, maka musnah sudah mimpi Erdogan, entah itu geopolitik (neo-Ottoman), politik (keinginannya agar posisi strategis di pemerintah Suriah didominasi oleh yang se-harakah dengannya yaitu Ikhwanul Muslimin), lalu ekonomi (keinginannya membangun pipa gas, dari Qatar, meilintasi Suriah dan menuju Turki).

Dan segala sesuatunya semakin menggila. Tak hanya mafia Turki yang diuntungkan dengan melakukan bisnis dengan Jihad Inc (kelompok jihadis). Pemerintahan Turki juga mendapatkan keuntungan. Dan yang akhirnya menjadi korban adalah Eropa.

Kanselir Jerman Angela Merkel telah berkunjung ke Ankara untuk memohon kepada Sultan, sehingga ia biasa menangani masalah pengungsi Suriah yang membanjiri negaranya. Jadi, Merkel mengalami kesulitan untuk menangani pengungsi Suriah, dan karenannya, ia meminta agar Erdogan mencegah para pengungsi ini keluar dari Suriah. Lalu Erdogan memberi syarat. Ia meminta dana 3 milyar dollar.

Akhirnya Komisi Eropa menyerah. Komisi Eropa memberikan Turki 3 milyar dollar Euro, dan akan mulai cair pada 1 Januari 2016. Dikatakan, bahwa dana itu digunakan untuk mengatasi krisis pengungsi Surah. Frans Timmermans, Wakil Presiden Komisi Eropa menyatakan bahwa dana tersebut digunakan untuk membantu kehidupan sehari-hari penduduk Suriah yang mengungsi ke Turki.

Jangan harap Komisi Eropa akan memantau bagaimana dana itu akan lenyap dalam labirin mafia, atau akan digunakan untuk mempersenjatai ‘pemberontak moderat’.

Erdogan tidak peduli pada pengungsi. Yang ia inginkan adalah ‘zona amannya’. Bukan di Turki, tetapi sepanjang 35 km di kawasan utara Suriah. Ia ingin kawasan itu tidak dikontrol baik oleh SAA, Hizbullah, ataupun pasukan di bawah komando Iran, ataupun Angkatan Bersenjata Rusia. Erdogan menginginkan diberlakukan zona larangan terbang di kawasan tersebut dan ia ingin NATO akan memuluskan ambisinya.

Mungkin Erdogan merasa, ia tengah mengemban misi dari Allah. Ia merasa berhak melakukan itu. Maka, ditembaknya pesawat tempur Su-24 baru permulaan. Bersiaplah, awal 2016 ia mendapatkan hal yang jauh lebih besar. (ba/LiputanIslam.com)

_____

*Pepe Escobar adalah jurnalis Asia Times. Tulisan ini diterjemahkan dari sputniknews.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL