ccarylOleh: Christian Caryl *

Pertama-tama, apakah Anda bersedia dipanggil Abu? Tentu, ini bukanlah sentimen pribadi. Tapi saya tahu bahwa bahwa nama Anda bukanlah nama asli, karena sepertinya Anda tidak terlahir di Baghdad. Saya menyaksikan sekilas video Anda, ketika Anda mengklaim keberhasilan para jihadis Anda menguasai sebuah mMimbar Masjid Haram di Mosul dan mendeklarasikan diri sebagai Khalifah yang baru.

Anda tidak terinspirasi oleh sejarah penciptaan Negara Islam di masa lalu. Kaum revolusioner Iran berhasil melakukannya, tapi mereka bermazhab Syiah, yang menurut Anda bukanlah Muslim. Saudi dan negara-negara Teluk hidup dalam aturan fundamentalis yang ketat, tetapi mereka merupakan negara monarki, yang juga tidak Anda sukai. Jenis sistem yang Anda anut sekarang ini mirip dengan sistem yang pernah dipraktekkan oleh kelompok Taliban di Afghanistan, atau yang ditunjukkan oleh kelompok Ansar Dine di Mali – yang telah memberlakukan syariah (versi pemahaman mereka) sejak tahun 2012. Namun sesungguhnya, sistem itu tak lebih daripada kediktatoran militer yang ditegakkan atas interpretasi Islam menurut pemahaman kalian sendiri.

Anda bukan orang yang pertama kali mengklaim berdirinya sebuah kekhilafahan baru pasca runtuhnya Khilafah Turki Ustmani pada tahun 1924. Muslim di India dan Afrika telah mendeklarasikan khilafah mereka sendiri di berbagai momen dalam kurun waktu 150 tahun terakhir, hanya saja, klaim tersebut selalu berakhir memalukan.

Belakangan ini, negara-negara Islam yang baru lahir telah gagal. Apa pasal? Lantaran wilayahnya menjadi surga yang aman bagi para teroris, yang mendorong pihak Barat akhirnya membidik mereka. Saya rasa, Anda tidak menyadari suramnya jejak-jejak negara Islam ini. Bagi saya, Anda tidak mampu untuk  menjadikan para cendekiawan Muslimin untuk berkontribusi di wilayah Anda. Sebaliknya, Anda akan menghadapi tantangan besar ke depan, dan ini membuktikan anggapan dunia yang skeptis terhadap berlangsungnya pemerintahan Anda.

Saya bukan seorang Muslim, tetapi perjalanan saya di Dunia Islam telah memberi saya kesempatan untuk mengecap sudut pandang orang-orang yang pernah hidup di dalam “masa percobaan” dengan peraturan Islam  — dan saya mendengar mereka banyak mengeluh. Jadi, ketika Anda benar-benar bertekad untuk mendirikan Negara Islam, ada beberapa hal yang harus Anda ingat:

Pertama, Anda mungkin harus berpikir dua kali ketika mengenakan jam tangan Rolex. Jihadis di seluruh dunia memiliki reputasi idealis, dan tidak tergoda oleh duniawi. Dengan memakai jam tangan mewah saat berpidato, Anda telah menguntungkan musuh. Jika kesan  yang ditangkap masyarakat terhadap Anda adalah: Anda korup dan bermewah-mewah  selaku penguasa Baghdad, maka Anda akan kesulitan untuk menarik simpati dari mereka.

Kedua, jangan melarang musik. Afghanistan dan Mali memiliki warisan musik yang sangat bernilai. Tetapi para jihadis telah melarang musik dengan dalih tidak Islami. Larangan seperti ini, sangat tidak umum dan justru akan membuat para jihadis seperti orang asing yang bodoh. Sayangnya, para pendukung Anda telah mengancam untuk membunuh para penyanyi Pop Kurdi akibat video baru yang mereka rilis.

Ketiga, berpikir dua kali untuk menghukum anak perempuan atas tuduhan tidak sopan. Di Mali, saat jihadis menguasai wilayah Utara, mereka mengirim pasukan untuk berpatroli di sekitar Timbuktu. Pasukan ini menahan setiap wanita muda yang keluar rumah tanpa mengenakan hijab.

Halle Ousmane Cisse, Walikota Timbuktu, mengeluh kepada pemimpin Ansar Dine. “Saya katakan kepada mereka,’Anda ingin mengubah agama kami  ke agama lainnya. Anda melemparkan istri dan anak-anak kami di rumah kami sendiri, dan memukulnya di depan mata kami. Lalu Anda berharap kami akan mencintai Anda?’”

Bisa ditebak, Anda dan rekan-rekan Anda telah melakukan hal yang sama di wilayah yang Anda kuasai. Mungkin masyarakat Sunni di Irak menghargai usaha Anda untuk menegakkan moral, tapi saya tidak yakin. Tak seorang pun suka pada jihadis Anda yang melakukan hal yang sama –sebagaimana yang terjadi di Mali.

Keempat, jangan merusak warisan budaya. Para jihadis di Timbuktu menghancurkan berbagai koleksi naskah kuno yang termasyur dengan alasan “tidak sesuai dengan ajaran Islam”. Penduduk setempat menganggap hal tersebut sebagai sebuah penghinaan yang serius, apalagi hal ini telah menghancurkan reputasi Timbuktu yang terkenal sebagai salah satu tujuan wisata, yang menjadi pilar ekonomi masyarakat. Di lain tempat, Taliban telah menghancurkan patung Buddha kuno di Bamiyan.

Dan tampaknya, Anda pun melakukan hal serupa. Anda menghancurkan makam Nabi Yunus di Mosul, dan menurut laporan terbaru, warga Mosul telah bersatu guna mempertahankan situs bersejarah dari serangan Anda. Tidakkah Anda mempelajari ini sebelumnya?

Kelima, cobalah untuk tidak memasukkan terlalu banyak orang asing di pasukan Anda. Salah satu alasan suku-suku di Irak bangkit melawan Al-Qaeda pada tahun 2006 adalah lantaran mereka benci pada jihadis asing yang mengatur hidup mereka. (Penjajah Amerika Serikat, kendatipun sangat menjengkelkan, mereka tidak berani menikahi wanita Irak ataupun memaksakan doktrin agama mereka terhadap masyarakat).

Aturan sesuai ‘syariat’ yang Anda buat, membuat jihadis terlihat lebih jahat di mata para pemimpin suku-suku lokal Irak, sehingga mereka pun bangkit untuk melawan. Demikian halnya yang terjadi di Timbuktu. Penduduk kulit hitam ini merasa sulit untuk menerima keberadaan pada jihadis non-Afrika, yang menjadi bagian dari kelompok Ansar Dine.

Keenam, jangan mengisolir para tokoh daerah setempat. Anda bisa belajar dari pemberontakan suku Irak terhadap Al-Qaeda, manakala para pemimpin setempat yang berpengaruh akhirnya memutuskan bahwa sudah saatnya Al-Qaeda dihentikan. Mungkin awalnya, para jihadis meremehkan, karena kondisi mereka masih kuat. Namun hal ini bisa dimanfaatkan oleh pihak lainnya, sebagaimana yang terjadi di Afghanistan. Para pemimpin salah satu suku Pashtun terbesar di negara itu berpaling dari Taliban dan berpihak pada Amerika. Dan kini, mulai terlihat adanya beberapa ulama di Irak Utara yang telah jemu berkomplot dengan Anda melawan pemerintah yang mereka benci. Selamat!

Ketujuh, jangan melarang masyarakat bersenang-senang. Taliban di Afghanistan melarang penduduknya bermain layang-layang. Dan Anda sekarang memutuskan untuk melarang masyarakat untuk merokok? Keputusan cerdas!

Kedelapan,  jangan menyebar perpecahan di kalangan umat Islam. Milisi Islamis di Libya telah membuat dirinya tidak populer, seperti meledakkan makam orang-orang Sufi. Ulama konservatif Salafi menyebut Sufi sebagai ‘Islam Palsu’. Sayangnya di kalangan umat Islam, khususnya warga Libya, mereka justru merasa lebih dekat dengan Islam Sufi dibandingkan dengan sekte Salafi yang diperkenalkan oleh jihadis-jihadis ini.

Lambat laun, hal ini akan alasan bagi masyarakat untuk memilih melawan para militan saat mereka memiliki kesempatan. Bahkan, para jihadis Anda telah ditegur oleh Ayman al-Zawahiri, atas serangan-serangan masif terhadap masjid-masjid Syiah di Irak.

“Tanpa adanya dukungan yang luas dari masyarakat, maka perjuangan suci Mujahidin akan hancur,” ucap Zawahiri. Itu benar.

Kesembilan, jangan menyatakan diri sebagai khalifah. Langkah ini, hanya akan membentuk polarisasi dan akan terasing dari kaum Muslim Sunni. Memang benar, banyak pihak yang berharap khilafah tegak kembali. Namun sayangnya, ada perbedaan gagasan dan cara perjuangan dalam menegakkan khilafah, antara Anda dan pihak lainnya. Tak ayal, dengan mengaku sebagai khalifah, Anda justru mendapatkan kemarahan dan kecaman dari orang-orang, yang dulu pernah berada di sisi Anda.

Saya tidak ragu sedikitpun, ada banyak umat Islam di seluruh dunia yang menyetujui gagasan terbentuknya Negara Islam. Sebagian besar dari mereka mengasosiasikan ide Negara Islam dengan hukum dan ketertiban, standar tinggi keadilan, dan ketinggian moral. Namun sebagian besar dari mereka menyadari bahwa untuk mewujudkan impian ini, apalagi dengan melakukan pemaksaan dan kekerasan, hanya akan menghasilkan kekecauan dan chaos. Saat mendeklarasikan khilafah, sepertinya Anda mengira bahwa seluruh kaum Muslimin akan turun ke jalan-jalan merayakan kemenangan, sekaligus berdiri di sisi Anda untuk mencegah pihak-pihak lain yang berniat untuk menyerang Anda. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Terdapat jurang yang lebar antara cita-cita Islam yang begitu agung, dengan fakta yang terjadi di tempat-tempat yang dikuasai ISIS seperti di Irak. Jadi Abu, saran saya terakhir adalah,”Cobalah untuk mendengarkan apa yang benar-benar kehendaki oleh masyarakat. Saya jamin Anda akan sangat terkejut, jika mendengar apa yang mereka inginkan.” (ph/LiputanIslam.com)

 

——

Christian Caryl adalah jurnalis Amerika yang aktif menulis tentang politik internasional. Tulisan ini diterjemahkan dari http://www.foreignpolicy.com/articles/2014/07/29/nine_things_to_avoid_when_creating_your_own_caliphate

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL