Sanaa,LiputanIslam.com-Tentara Yaman pada hari Sabtu (17/8) mengabarkan serangan nirawaknya sejauh 1200 km di dalam wilayah Saudi. Target serangan itu adalah pangkalan minyak Shaybah di tenggara Saudi.

Serangan dengan 10 nirawak ofensif itu disebut Ansharullah sebagai serangan terbesar nirawak sepanjang sejarah Yaman. Melihat jarak tempuh dan volume serangan, ini merupakan perkembangan signifikan selama Perang Yaman.

Harian transregional Rai al-Youm membeberkan 8 pesan Ansharullah, baik kepada Saudi atau UEA, yang terkandung dalam serangan kemarin.

Baca: Pemimpin Ansarullah Sebut Serangan Terbarunya ke Saudi sebagai Serangan Terbesar

Pertama: Sama seperti serangan bulan yang menggunakan 7 nirawak, serangan terbaru ini menjelaskan strategi militer Yaman dalam menggempur fasilitas-fasilitas minyak Saudi. Minyak merupakan tulang punggung ekonomi Saudi, dan ini berarti bahwa menggerogoti ekonomi Saudi merupakan target jangka panjang Yaman.

Kedua: Pertanyaan yang terlintas di benak para pakar militer adalah bagaimana nirawak sebanyak ini bisa merangsek sejauh itu dan menghentikan produksi pangkalan minyak itu (selama beberapa jam)? Nirawak-nirawak itu melaju dengan mulus tanpa dihadang, padahal Saudi telah menghabiskan milyaran dolar untuk membeli radar-radar modern dan sistem pertahanan Patriot.

Ketiga: Serangan ke ladang minyak yang dipersengketakan Saudi dan UEA itu bertujuan mengirim pesan ke dua sekutu dalam agresi atas Yaman. (1) upaya untuk menghancurkan sisa-sisa koalisi yang kian ringkih itu dan (2) upaya untuk membuat jarak antara dua sekutu serta menunjukkan ‘keberpihakan’ terhadap UEA dan (mungkin) ‘hadiah’ atas keputusan Abu Dhabi untuk menarik pasukannya dari Yaman.

Keempat: Jika nirawak Yaman bisa menjangkau Shaybah, berarti ladang-ladang minyak besar lain seperti Ghawar juga bisa menjadi target serangan. Ghawar per hari bisa memproduksi sekira 5 juta barel atau setengah dari total produksi minyak Saudi.

Kelima: Peringatan bagi UEA bahwa Abu Dhabi, Dubai, dan bandara-bandaranya juga bisa dijangkau dengan mudah oleh nirawak Yaman. Jadi, jika UEA mencabut keputusannya untuk angkat kaki dari Yaman dan jet-jetnya tetap membombardir kota-kota negeri itu, dua kota terpenting UEA di atas akan menjadi target serangan.

Keenam: Patut dicamkan bahwa mayoritas serangan Ansharullah ke wilayah Saudi, baik di Jazan, Najran, Asir, atau bandara-bandara, tidak menelan korban jiwa dari warga sipil. Ini jelas berbeda dengan serangan koalisi Saudi yang menyasar rumah sakit, sekolah, pasar, acara perkawinan, dan sebagainya.

Ketujuh: Di empat tahun pertama, Perang Yaman bisa dikatakan hanya sepihak dan berat sebelah. Namun kini perimbangan kekuatan mulai berubah. Dengan melihat serangan terakhir ke Shaybah dan akurasinya, bisa jadi serangan balasan Yaman akan kian meningkat di waktu-waktu mendatang.

Kedelapan: Kendati Ansharullah bersikeras serangan ini tidak berkaitan dengan ketegangan Iran-AS di Selat Hormuz, namun tetap saja perkembangan ini tak bisa dipisahkan dari masalah tersebut. Bagaimana pun juga, Ansharullah adalah salah satu rukun utama Poros Resistansi pimpinan Iran, yang juga meliputi Suriah, Irak, Hizbullah Lebanon, Hamas, dan Jihad Islam Palestina. Berkaitan dengan ketegangan Selat Hormuz atau tidak, serangan ini tetap merupakan tekanan atas Saudi dan AS yang akan menguntungkan Iran serta sekutunya. (af/alalam/fars)

Baca Juga:

10 Drone Yaman Gempur Fasilitas-fasilitas Minyak Saudi

Sekjen Hizbullah: Memerangi Iran Berarti Memerangi Semua Poros Resistansi

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*