Oleh : Candiki Repantu*

candiki

“Perundingan nuklir harus berlanjut. Namun, semua pihak harus mengetahui bahwa meskipun negosiasi itu berjalan tapi aktivitas Republik Islam Iran di bidang riset dan pengembangan energi nuklir tidak akan pernah berhenti dalam bentuk apapun, tidak ada satupun prestasi nuklir yang dapat non-aktifkan, dan hubungan IAIE dengan Iran harus konvensional dan bukan luar biasa…Sains nuklir tentu akan digunakan untuk produksi energi dan bermanfat pula untuk sektor industri, kesehatan, pertanian, ketahanan pangan, dan perdagangan, namun manfaat yang lebih besar dari sains nuklir di negara kita ialah peranannya dalam memperkuat rasa percaya diri bangsa.” (Ayatullah Ali Khamenei hf)

—–

Sejak revolusi tahun 1979, di bawah kepemimpinan Ayatullah Ruhullah Khumaini, Iran menjadi musuh utama Amerika Serikat. Dengan memberi gelar “The great satan”, Setan Besar kepada Amerika, Imam Khumaini menancapkan perlawanan terbuka baik secara fisik maupun ideologi dijantung hati setiap kaum muslimin.

Beberapa tahun lalu, dengan logika dilematis yang sederhana, Mahmoud Ahmadi Nejad yang kala itu menjadi Presiden Iran, tampil memberikan warna baru bagi perkembangan politik global. Dia memberikan aliran semangat baru bagi dunia berkembang (khususnya Islam), dan sekaligus membuat ketar-ketir dunia maju (Barat). Sekali lagi coba kita cerna logika sederhananya, “Jika nuklir dinilai buruk dan berbahaya, mengapa kalian sebagai adidaya memilikinya? Sebaliknya, jika teknologi nuklir itu baik dan berguna, lalu mengapa kami tidak boleh memilikinya? 

Sebagian pengamat memberikan komentar, bahwa Israel, Amerika, dan kroni-kroninya telah mempersiapkan agenda untuk menguasai dunia Timur khususnya wilayah Islam, dengan membentuk sebuah persekutuan Timur Tengah Raya dan mendirikan Negara-negara boneka binaan mereka, bahkan Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, dalam menyikapi agresi-agresi militer Israel dan Amerika serta kroni-kroninya menegaskan bahwa semua itu merupakan bagian dari rencana untuk memperluas wilayah dan menciptakan Israel Raya.

Namun, agenda ini akan terhambat disebabkan pada saat ini terjadi perimbangan opini melalui tampilnya Triple Powers yakni Iran, Suriah, dan Libanon di satu sisi, dan triple powers lainnya di sisi lain yakni : Rusia, Cina, dan Iran, yang bakal menggaet simpatik dunia dan menjadi perimbangan kekuasaan Amerika sang Adidaya. Dengan tiga kekuatan ini ditambah beberapa kekuatan perlawanan negara-negara sekitarnya seperti Palestina, Irak, Venezuela, Bolivia, Korea Utara, dan Kuba telah membentuk koalisi front perlawanan terhadap Israel dan Amerika.

Akan tetapi bagi Israel dan Amerika, Iranlah satu-satunya yang mesti ditundukkan dengan cara apapun, karena Iranlah yang menjadi dalang semua perlawanan di Timur Tengah. Iran dipandang sebagai pihak yang paling bersalah. Buktinya, saat berbicara soal Hamas, Iran dilibatkan sebagai negara yang berada di balik kelompok perjuangan Islam di Palestina ini. Di Irak, AS juga menuduh Iran menggunakan pengaruhnya untuk intervensi di negara itu. Hal sama juga kita saksikan dalam kasus Libanon dan Suriah. Iran dituduh membantu Hizbullah dan Suriah dalam pengadaan logistik militer dan bahkan mengirimkan orang-orangnya untuk berperang bersama Hizbullah dan Suriah. Tak heran, jika Koran New York Sun dalam sebuah tulisannya pernah menyatakan, “Hizbullah dan kelompok Islam di Irak juga Suriah tak lebih dari anak catur sementara Iran memainkan peran sebagai papannya. Pengaruh Iran di kawasan ini semakin hari semakin bertambah kuat. Dalam setiap perkembangan di kawasan ini, Iran harus dilibatkan, termasuk dalam soal pertukaran tahanan dengan Israel.”

Karena itu, Iran sebenarnya menjadi musuh bersama Amerika dan kroni-kroninya, dan merupakan target utama Amerika dari semua agresi dan perang (baik fisik maupun ideologi) yang selama ini dimainkannya. Untuk itu, sebagai propagandanya, Amerika mengembangkan isu nuklir Iran ke permukaan untuk menciptakan citra buruk Iran dimata dunia. Namun hal itu tidak cukup juga, Amerika dan kroni-kroninya menginginkan Iran dan setiap Negara Islam dan berpenduduk Muslim terkekang dan tertekan tanpa daya dan tanpa kuasa menentukan arah kebijakannya. Di mulai dari Afghanistan yang dihancurkan dengan tragis, Irak diperangi dengan bengis, Palestina dikucilkan sampai kritis, kini Iran sebagai satu-satunya corong perlawanan kaum muslimin di dunia, hendak ditekan dengan sistematis. Untuk itu memahami persoalan nuklir Iran ini menjadi suatu yang signifikan.

bushehr

Nuklir Iran: Sebuah Fenomenal

Beberapa tahun lalu, pertemuan G8 di Rabat, Maroko, digelar dengan melakukan pembahasan penting yang diusung Amerika Serikat yaitu Terorisme Nuklir, dengan menetapkan dua negara sebagai simbolnya yakni Republik Islam Iran (RII) dan Korea Utara (Korut).

Memang Iran, meskipun bukan hal yang baru, belakangan ini kembali menjadi perhatian dunia dengan gebrakan-gebrakan yang dilakukannya. Jika sebelumnya, Mahmoud Ahmadinejad dianggap sebagai presiden konservatif yang keras terhadap Barat mati-matian mempertahankan proyek nuklirnya. Maka kini, Presiden Hasan Rouhani yang dianggap lebih moderat dari Ahmadinejad, ternyata tetap akan mengembangkan teknologi nuklir yang dimilikinya sebagai energi alternative (lihat http://liputanislam.com/berita/internasional/timur-tengah/presiden-iran-sanksi-kita-dobrak-proyek-nuklir-kita-lanjutkan/). Amerika bagai kebakaran jenggot melihat kenyataan ini. Bagaimana pula Negara yang sejak berdirinya tahun 1979 di embargo tetapi mampu mengembangkan teknonuklir? Seandainya hal ini benar terjadi, dan Iran akan memiliki senjata nuklir, bagaimana nasib Amerika sebagai musuh bebuyutannya? Apakah perang dunia ketiga, seperti diramalkan, akan terulang kembali? Atau hal ini akan semakin menguntungkan Amerika, dengan memperkuat opininya tentang “terorisme nuklir” tersebut?

Menanggapi hal ini, berbagai komentar dan tulisan dipublikasikan. Akan tetapi, tanpa surut Amerika tampil terdepan menekan dan menyudutkan Iran atas proyek nuklirnya tersebut. Stereotif Barat terhadap Islam dibuat semakin negative, sehingga Islam dipandang sebagai agama yang mendukung kekerasan atau dengan simplistic, “Islam agama yang menjadi ideologi para teroris”.

Uniknya, Iran, negeri para Mullah ini, dibawah komando Ayatullah Ali Khamenei tidak surut selangkahpun untuk mengembangkan program nuklirnya. Karena, Iran menyadari bahwa Barat (Amerika) tidak pernah secara terbuka memberikan kejelasan arah kebijakannya. Setiap turut campurnya dalam semua persoalan di dunia selalu berpijak pada kepentingan politik dan negaranya dengan penuh rekayasa, retorika, dan tentunya tipu daya. Menanggapi klaim dan perundingan soal program nuklir Iran ini, Pemimpin tertinggi Iran tersebut, dengan tegas  menyatakan : “Perundingan nuklir harus berlanjut. Namun, semua pihak harus mengetahui bahwa meskipun negosiasi itu berjalan tapi aktivitas Republik Islam Iran di bidang riset dan pengembangan energi nuklir tidak akan pernah berhenti dalam bentuk apapun, tidak ada satupun prestasi nuklir yang dapat non-aktifkan.” (lihat http://liputanislam.com/berita/internasional/timur-tengah/khamenei-proyek-nuklir-tetap-jalan-iran-pantang-menyerah-di-depan-intimidasi/)

Tujuh Alasan Bagi Nuklir Iran

Mengapa Iran berkeras untuk mengembangkan teknologi nuklir tersebut? Paling tidak ada tujuh alasan yang bisa kita ajukan.

Pertama, teknologi nuklir adalah hak legal bangsa Iran yang sudah menjadi tuntutan nyaris semua rakyat Iran. Kepemilikan IPTEK yang maju (termasuk teknonuklir) merupakan wasiat dan tujuan penting Revolusi Islam Iran. Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyatakan bahwa Iran telah dijajah sehingga stagnan dalam pengembangan ilmiah, untuk itu Iran wajib mengejar keterbelakangannya itu di bawah naungan kebebasan dan kebangkitan revolusi Islam. Karena itu, pencapaian teknologi nuklir tentu akan memberikan semangat yang luar biasa dahsyatnya bagi rakyat Iran yang terus menerus mendapat tekanan dan embargo sejak 1979.

Kedua, teknologi nuklir adalah tekonologi paling sophisticated dan maju saat ini sehingga pengembangannya oleh Negara berkembang (Islam) akan menjadi tamparan keras bagi hegemoni Barat yang selalu memboikot dan mengekang kemajuan yang ingin dicapai oleh Negara-negara Islam. Dengan keberhaslan program teknonuklirnya, Iran membongkar hegemoni Barat yang selalu memboikot dan mengekang kemajuan teknologi yang dicapai oleh negara berkembang (Islam). Hal ini, menyadarkan negara berkembang (Islam) lainnya untuk mampu berdiri sendiri dan lepas dari dominasi pihak asing.

Ketiga, teknologi nuklir dengan mudah akan menempatkan Iran dalam kategori Negara maju secara cepat yang memiliki sains dan teknologi canggih disamping jiwa beragama yang suci.

Keempat, Dengan memanfaatkan teknonuklir, Iran akan memperoleh keuntungan ekonomi luar biasa dengan pengalihan kebutuhan pada energi minyak. Perkembangan perekonomian Iran akan meningkat sehingga kesejahteraan rakyatnya akan lebih terjamin. Sayid Ali Khamenei hf, menegaskan bahwa sains nuklir akan digunakan untuk produksi energi dan bermanfat pula untuk sektor industri, kesehatan, pertanian, ketahanan pangan, dan perdagangan.

Kelima, Umat Islam sejak dulu adalah bangsa berperadaban maju, yang memiliki kualitas ilmu dan teknologi. Karenanya, Iran ingin menyadarkan bahwa umat Islam janganlah terlena dengan kisah nostalgia masa lalu, namun juga harus berkarya untuk menciptakan peradaban kini dan masa depan dengan ilmu dan teknologi.

Keenam, secara teologis Iran menganut mazhab Syiah dan meyakini akan kehadiran Imam Mahdi yang akan menegakkan keadilan dan menghancurkan kemungkaran. Sebagai wujud penantian yang aktif dan progressif, para penganut syiah mesti mempersiapkan segala hal untuk menyambut kehadirannya.

Ketujuh, secara normative Islam menegaskan pentingnya bagi kaum muslimin memiliki kekuatan dan keperkasaan, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh-musuh Allah, musuh kalian dan oaring-orang selain mereka yang kalian tidak menegtahuinya, sedang Allah mengetahuinya” (Q.S. al-Anfal: 60). Iran ingin menegaskan bahwa Islam dan para ulamanya bukan sekedar mengajarkan ritual, tetapi juga pengembangan intelektual dalam berbagai sisinya seperti sosial-budaya, politik, ekonomi, dan juga pertahanan-keamanan tentunya.

Dengan merujuk pada tujuh alasan di atas, menjadi jelaslah bahwa pemilikan teknonuklir oleh Iran tidak dapat di tawar-tawar lagi. Hal ini memang akan mendatangkan kegamangan dan kekhwatiran bagi Negara-negara adidaya (khususnya Amerika),karena teknonuklir ini akan menjadikan Iran Negara yang nyaris mandiri dalam semua bidang. Secara sederhana dapat dipahami bahwa dengan cadangan minyak dan gas yang besar dan teknonuklir tersebut secara otomatis Iran akan menjadi Negara yang sangat kaya sumber daya baik sumber daya alam dan teknologi maupun sumber daya manusia. Ini berarti, selangkah lagi Iran akan menjadi Negara adidaya sekaligus adikuasa. Selain itu, akan muncul antusiasme dunia Islam secara umum untuk melepaskan diri dari hegemoni Barat dan dominasi keuasaan asing. Sungguh suatu yang dikhawatirkan Barat (Amerika, Israel, dan antek-anteknya). (cr/liputanislam.com)

 *Ketua Yayasan Islam Abu Thalib Medan.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL