dirgo_purboOleh: Dirgo D. Purbo

Pengantar: LI menghadirkan analisis berseri Keamanan Energi Indonesia, yang diambil dari paper karya pakar geopolitik Indonesia, Dirgo D Purbo. Analisis ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita tentang pentingnya keamanan energi (energy security) dan bagaimana strategi untuk mencapainya.

Berikut ini bagian kelima/terakhir  (baca bagian pertamakedua ketigakeempat).

 

Globalisasi Ekonomi dan Tantangannya

Ekonomi abad ke-21 yang ditandai dengan globalisasi ekonomi merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan semakin terintegrasi. Globalisasi ekonomi telah membuat lalu lintas perdagangan barang dan jasa antar negara semakin bebas, perdagangan uang dan investasi dengan aliran modal pun semakin deras keluar-masuk. Pembelian asset domestik oleh asing tak bisa dihindarkan lagi. Konsekuensinya, Indonesia harus siap menghadapi persaingan ketat dengan negara-negara lain, baik dalam bidang produk/ perdagangan maupun jasa. Kompetisi akan menempatkan Indonesia dalam suatu persaingan yang menempatkan Indonesia dalam suatu kekuatan pasar. Dalam konteks perdagangan minyak mentah ataupun BBM, Indonesia sudah harus menempatkan diri pada posisi sebagai pembeli (buyer) di antara negara-negara net oil importer lainnya yang berada di kawasan benua Eropa, Asia, dan tentu saja, Amerika Serikat yang purchasing power paritynyasangat kuat.

Meski Indonesia adalah net oil importer (pengimpor minyak), pada saat yang bersamaan, pemerintah juga terpaksa memberi subsisdi BBM. Akibatnya, nilai tukar mata uang rupiah terus melemah dan terjadi defisit anggaran. Cepat atau lambat, situasi ini akan bermuara pada cadangan devisa negara yang terkuras. Indonesia yang begitu kaya atas sumber energi seperti minyak, gas alam, batubara dan berbagai bahan mentah lainnya tentu mempunyai competitive advantagedan comparative advantage dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan regional. Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah strategis agar Indonesia bisa memperkuat ketahanan energinya.

Agenda Kepentingan Nasional

Adanya konflik yang terjadi pada tingkat lokal, regional, maupun global mempunyai korelasi yang sangat kuat atas pemahaman yang disebut what lies beneath the surface. Artinya, wilayah-wilayah yang mengandung potensi sumber daya alam seperti minyak, gas,berikut refinery, distribusi dan jalur transportasi, serta komoditi strategis seperti emas, tembaga, biji besi dll., merupakan geopolitical flashpoint yang harus diamankan secara maksimal. Potensi konflik dan instabiltas politik di kawasan-kawasan tersebut sangatlah tinggi.

Berkaitan dengan hal itu, Mayjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden RI ke-6) pernah memberikan orasi ilmiah pada 1996 di Palembang, yang bertema geopolitik. dengan topik: Orasi berjudul “Kesadaran Kebangsaan menghadapi Tantangan Abad ke 21” itu mencatat beberapa poin penting dalam pemahaman geopolitik, yaitu:

1.Sudahkah kita benar-benar menjadi bangsa yang merdeka, yang tidak hanya bebas dari penjajahan bangsa lain, namun juga bebas dari tekanan dominasi dan penguasaan bangsa asing baik dalam arti ideologi, politik, ekonomi maupun keamanan ? Benarkah kita telah mencapai kemandirian sejati yang kini telah menjadi salah satu paradigma pembangunan nasional dan telah dituangkan pula dalam konsepsi Pembangunan Jangka Panjang Kedua di tengah percaturan global yang menghadirkan realitas kembar geopolitik dan geoekonomi dewasa ini?

2. Sudah kokohkah persatuan dan kesatuan bangsa? Mampukah bangsa Indonesia membangun kesadaran,wawasan pola sikap dan pola tindak untuk mempertahankan dan memperkokoh integrasi nasional di tengah realitas kemajemukan bangsa yang sering menimbulkan persoalan kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan selama ini?

3. Sejauh manakah kita berhasil membangun kualitas kedaulatan rakyat? Mampukah kitamenolak dan menahan campur tangan asing dalam menangani permasalahan sendiri di tengah-tengah bangkitnya globalisme dan universialisme dengan perangkat dunia dan norma-normanya? Bagaimana kita meletakkan keseimbangan antara solidaritas globaldan kesetiaan nasional dengan tetap meletakkan kepentingan nasional di atas segalanya? Bagaimana kita memberikan makna dan dapat mewujudkan semangat konstitusi yang merumuskan “kedaulatan adalah di tangan rakyat” ?

SBY kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan sepuluh butir penjabaran agenda kepentingan nasional, yaitu:

1)Mempertahankan keamanan dan stabilitas nasional.

2)Meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

3)Memantapkan kehidupan Demokrasi Pancasila.

4)Memantapkan integrasi nasional.

5)Mengurangi kesenjangan dan ketertinggalan masyarakat.

6)Mempertahankan jatidiri dan sistem nilai bangsa Indonesia.

7)Meningkatkan efektifitas manajemen pembangunan.

8)Meningkatkan efisiensi, produktifitas, dan daya saing bangsa

9)Meningkatkan pengusaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

10)Mempertahankan peran internasional Indonesia

 

Tantangan Kita Hari Ini dan Langkah yang Harus Dilakukan

Butir ke dua di atas berkaitan sangat erat dengan energy security dan sangat relevan dengan konteks ekonomi abad 21, yang merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan global. Derasnya globalisasi yang berlangsung begitu cepat sehingga telah mempengaruhi seluruh aspek kehidupan bangsa,yang hal ini dapat terlihat adanya penetrasi isu-isu global seperti demokratisasi, HAM, pasar bebas, lingkungan hidup, terorisme internasional, telah menjadi keniscayaan bagi setiap bangsa Indonesia.

Di sisi lain pengaruh globalisasi saat ini juga menimbulkan permasalahan nasional yang telah mengancam nasionalisme, patriotisme serta persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang dengan ditandai rendahnya rasa toleransi di antara sesama anak bangsa, rendahnya semangat kesetiakawanan sosial dan menurunnya semangat bergotong royong dalam kehidupan serta menjauhnya semangat bermusyawarah dan bermufakat dalam menangani masalah yang ada di dalam masyarakat. Makin berkembang paham yang bertentangan dengan Pancasila, seperti munculnya kembali ideologi yang bersifat imperialisme, feodalisme, liberalisme, kapitalisme dan lain-lain. Ideologi ini direspon oleh menguatnya fundamentalisme agama atau primordial sempit serta radikalisme yang secara ekstrim termanifestasi dalam bentuk terorisme. Selain itu, semakin banyak partai politik yang muncul dengan bermacam- macam azas ideologi di luar ideologi Pancasila. Semua ini menumbuhkan kerawanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan mempertimbangkan aspek geopolitik dan geoekonomi bahwa kebutuhan dalam negeri atas energi fosil sangat besar, kiranya perlu diambil langkah langkah strategis yang sesuai dengan konteks kepentingan nasional Indonesia antara lain :

1. Mencanangkan untuk melakakukan efisiensi energi diberbagai sektor, terutama di sektor transportasi agar dapat mengurangi konsumsi merupakan agenda utama kepentingan nasional

2. Meningkatkan stok BBM nasional dari sekitar 15 hari menjadi diatas 30 hari dan menentukan stok BBM untuk kegiatan operasi militer/polri. Penyelesaian hutang antara instansi Negara seperti contohnya TNI, Garuda Airways dan PLN akan dapat mewujudkan stok nasional mencapai lebih dari 30 hari.

3.Hasil produksi minyak dan gas diutamakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negri terlebih dahulu.

4. Memonitor secara seksama perkembangan penggunaan mata uang Dolar untuk pembayaran minyak di kawasan Heartland.

5.Melaksanakan hubungan bilateral secara khusus dan intensif dengan negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi,Canada,Iran,Irak, Khazakhtan,Venzuela,beberapa Negara di Afrika dan Rusia.

6. Memanfaatkan secara optimal posisi strategi silang Indonesia dengan salah satunya membuka jalur pipa untuk transfer crude oil dari Samudera Hindia yang memasuki perairan Indonesia guna kebutuhan negara-negara di kawasan Asia Timur. Adanya jalur pipa ini akan mengurangi ketergantungan tanker-tanker yang melintas di Selat Malaka dan akan memberikan devisa yang sangat besar dari hasil biaya transfer yang diperoleh dari penggunanya. Jalur pipa ini merupakan jalur-jalur strategis alternatif yang dirancang dari Thailand dan Malaysia.

Konstelasi geopolitik dunia pada abad 21 seharusnya membuat kita menempatkan energi securitysebagai agenda utama kepentingan nasional. Oleh karena itu, pemerintah penting sekali melaksanakan langkah-langkah strategis di atas demi tercapainya keamanan energi. (tamat)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL